Ega Dioni Putri shared “First Time Playing at Kid-O-Kid” with you


google_photos_pinwheel.png
AD4M7ozV6JmjHwTaYSxkIiH4Fq1b1Dw1z1FKVLbhiBeLcw=s80-cc Ega Dioni Putri: I’ve been curious with this place since we moved to Japan a year ago. Turned out Musa tried this indoor play area when we didn’t plan it.

Advertisements

Trip to Aichi 2017 – Day 1


Second long trip since we moved to Japan a year ago, this short escape also became our second visit to Aichi prefecture. We expect this time we’ll hpave quite enough time to explore Nagoya since at past we only checked in here to get off and ride the night bus, plus plan to visit some other cities as our destination now with the motivation to look for kid entertaintment 🤣.

(Lanjut dalam Bahasa)

Bus ke Nagoya dijadwalkan berangkat hari Kamis kemarin, 12 Okt, pukul 11.25 PM. Malem banget? Iya, namanya juga bus malam 😛 dan di Jepang ini mau ke mana aja kalo naik bus malam biasanya diset biar sampai tujuan pagi jam-jam 6-7 lah, jadi berangkatnya pasti larut, dihitung mundur dari waktu perjalanan, tergantung tujuannya. So far, satu atau dua dari kami udah pernah coba bus malam ke Osaka (2010), Nagoya (2011), dan Okayama (2012) dengan merk bus yang berbeda-beda. Jadi misal kalo ke Osaka berangkatnya lebih awal daripada ke Nagoya, tapi sampainya tetap kurleb sama jamnya. 

Kali ini, kami menjatuhkan pilihan pada Willer Express bus. Untuk tarif bisa dicek di situsnya, ya. 

DEPARTURE

Berhubung jam berangkat udah lewat jam tidur Musa, tentu saja kami berharap bisa menidurkan doi dulu sebelum berangkat. Cuma hari itu sibuk bangettt.. seharian saya nganter doi ke jidokan (children hall) buat ikut kumpul bocah, abis itu belanja grocery, ngurusin cucian karena ada baju yang mau dibawa, ngurusin sisa bahan di kulkas (baca: masak), packing, dan ada acara ngejahit jaket dan daster rusak segala. Maksa banget mau bawa baju yang lagi sobek. Itu belum termasuk nafsu datang ke matsuri di stasiun tetangga sore harinya. Hahaha. Aisar pun yang katanya iya-iya pas diajak ke matsuri, ditungguin nggak pulang-pulang dan jam 9 malam baru di rumah 😣 Alhasil, si bocah gagal bobo sampai duduk di bus. 🚌 

EA5512 Kamata to Nagoya

Departed from Keikyu Kamata station near our home on 10:53 PM

Right across the Yodobashi Camera, Le Front Kawasaki, our bus was ready to go on 11:30 PM

 

Alhamdulillah meskipun tidurnya telat, setelah bunyi bip jam 12 malam dari arloji terdengar, ditambah dengan suasana baru, Musa tetap bisa merem dengan mudah. Langsung mapan sendiri dan narik selimut. Berhenti di rest area pertama pukul 3.00, hanya saya yang turun untuk pipis. Barulah ketika berhenti di rest area kedua pukul 5.00 Musa terbangun, nemenin Mama shalat Subuh di ruang ganti yang tersedia dekat area toilet, dan minum-minum dikit. Abis itu mulai drama, nggak bisa tidur lagi! Mau jalan ke depan di saat bus udah jalan, lalu setelah nangis-nangis dilarang diamnya karena dipangku Mama sambil lihat jendela. Sayangnya, baru sebentar pulas udah harus turun karena tiba di Nagoya eki.

The second rest area we stopped by (around 5 AM) at Yabe, Shinsiro, already in Aichi

My first time to see washlet from brand other than TOTO


HEADING TOYOTA CITY

Setelah sarapan, ke toilet, dan beli tiket di one day pass untuk subway dan bus, sekitar sejaman transit di stasiun Nagoya lah, kami langsung naik kereta menuju Toyota. Masuk penginapan (pakai jasa AirBnB) direncanakan baru akan sore ini menimbang rute yang kami lalui. Tujuan utama hari pertama ini adalah ikut tur ke pabrik Toyota. Perjalanan totalnya satu jam lebih dikit, harus ganti kereta 2x, dan jalan kaki 10 menit.

Day pass ticket for subway and bus around Nagoya. We just need to adjust the fare (by paying more cost) if we go out of the covered zone.

Toyotashi station, welcome to the suburb area 😛


Bagi yang nggak terbiasa pakai tiket one day pass, jangan kaget kalo pas sampai stasiun tujuan.. tet teeeet.. tiketnya error kagak bisa keluar. Itu tandanya saldo kurang karena kita ke stasiun yang tidak tercakup dalam zona one day pass. Cukup datang ke loket di dekat ticket gate untuk bayar selisihnya.

Toyota city view, this is the main road where’s the Toyota head quarter office is located

That building is the Toyota main office

Flowers we met on the way

 

Begitu menjejakkan kaki di Toyota, langsung deh aura ndesa menyergap.. duh, ini mirip kaya Ann Arbor deh, meeen! Sepi, banyak ijo-ijoan, orangnya santai, tapi gedung-gedung perkantoran tinggi gede dan truk-truk cargo ukuran jumbo kelihatan di mana-mana.

ARRIVED AT TOYOTA AUTOMOBILE MUSEUM

Setelah sempat nyasar masuk ke halaman head office Toyota, tibalah kami di museum mobilnya Toyota yang sebenarnya cuma sebelahan sama si kantor utama. Di meja resepsionisnya museum inilah kita harus lapor kalo kita mau ikut tur dan udah daftar via website. Ntar dikonfirmasi sama mereka data kita, informasi harus kumpul di mana jam berapa, dan dikasih name tag. Nah, sebetulnya tur ini cuma boleh buat anak tiga tahun ke atas, jadi Musa maksa dulu hari ini.. habiiis kapan lagi, kan. Wkwk.

Susah banget buat dapat kesempatan ikut tur pabrik ini. Kebetulan kami beruntung dapat slot kosongnya hari ini aja, sedangkan kuota grup hingga bermingu-minggu kedepannya udah penuh. Awalnya pun mau daftar grup yang pakai English, tapi sama juga itu malah lebih duluan penuh jadi kami terpaksa ikutan yang nihongo 😪 Kalo buat turis luar Jepang mungkin lebih susah lagi ya ngepasin jadwal dan dapat jatah kuotanya, kecuali jauh-jauh hari banget direncanakan.

Selama menunggu saat kumpul peserta tur, kami punya waktu 40 menitan buat eksplor museumnya. Di lantai 1 lebih kaya showroom mobil, terus di lantai 2 ada souvenir shop dan exhibits for children. Musa seneng banget bisa nyobain macam-macam mobil, tapi pas diajak naik pick up  emoh-emoh doi.. gede dan tinggi soalnya. Udah lupa dulu padahal hidupnya di US sering ketemu yang begituan. Haha.

Toyota Automobile Museum 1st floor: Show room for newest generations of Toyota products

Unlike in an expo, you can try to ride the cars without queueing (case study: Friday 😬)

Toyota 86

Toyota 86 in my fave color 😍

Miniature collection

We met the primary students on study tour


Selama tur peserta dilarang mengabadikan kegiatan di pabrik dalam bentuk apa pun, jadi alat elektronik harus disimpan si loker atau ditinggal di bus. Lokernya kecil banget jadi saya cuma naruh isi tas yang nggak penting dibawa (a.k.a. amunisi di saat lapar) dan HP ditinggal di bus.

TOYOTA PLANT TOUR

Dari awal kami dateng petugas bilang kalo grup English ada kosong kami akan diikutkan, tapi ternyata nggak ada yang bolos atau cancel hari itu 😭. Yowess lah sekalian mengasah keterampilan listening (eaaaa..).

Killing time in the bus 🚌 from museum to plant area by drawing

Bawa anak 2,5 tahun yang maunya gerak seenak dia sendiri dalam agenda ini tentu saja tantangan yang luarrr biasa. Di museum kami udah mencoba bertabah dengan berbagai tingkah random-nya.. pengen keluar masuk museum lah.. naik-naik mobil yang dipamerin nggak selesai-selesai lah.. bikin hopeless mau bawa ke pabrik. Deg-degan juga karena dari kematangan sikap dan posturnya nih bocah emang masih cocok jadi anak satu tahun. Hahaha. Cuma mau gimana lagi, udah penasaran banget, cyiiin.. untungnya mbak-mbak petugas dan peserta lain nggak ada yang kepo nanya-nanya umur Musa sebenarnya berapa.. wkwk 😆
Singkat cerita, setelah kumpul pukul 11.00 lalu naik bus dari mereka selama 20 menit, kami sampai di kawasan pabriknya. Super duper luas kompleknya (ya iyalah pabrik mobil gitu lho..). Berhubung nggak boleh ambil foto di dalam, jadi saya cuma punya foto dikit penampakan pabrik dari luar.

Toyota plant area (view from the bus)


Pamphlet about plant tour and museum on English

Meskipun penjelasan di bus dan pabrik dalam bahasa Jepang, saya agak terbantu dengan pamflet bahasa Inggris, terjemahan teks-teks yang disertakan di papan-papan, dan tentu saja bapak translator yang selalu ada di dekat saya (uhukkk… makasih, bojo!) walaupun nggak semua kata-kata guide bisa doi terjemahkan akibat kami berdua sibuk mengkondisikan si balita. Heuuu.. 😢

Informasi yang berhasil saya tangkap selama tur nanti bakal saya tuliskan ya, tapi sekarang belum sempat rekap. Sementara bisa download scan pamflet (English) di sini dulu. Yang pasti, tur pabriknya KEREN pake BANGET! Dari pengalaman kengaku pabrik sebelum-sebelumnya, sepertinya ini adalah yang terpanjang kami jalani, padahal mereka cuma bawa kami keliling di dua proses: welding (pengelasan) dan assembling (perakitan). Itu aja udah tepar banget pulangnya. Nggak kebayang kalo semua proses mereka tunjukkan dan perjuangan kami bikin anak-cilik-yang-selalu-pengen-ngebolang-sendiri bisa bersikap manis menjadi lebih dari dua jam.. kutaksangguuupp. 😂

Dari kunjungan ini saya malah salah fokus ke para karyawan Toyota. Mereka kelihatannya kerja keras banget bagai robot. Kecepatan dan urutan geraknya udah kaya terprogram, bahkan bakal ada alarm yang bunyi kalo ada step yang telat dikit selama perakitan mobil. Kalo tahap welding semuanya dikerjain robot beneran dan ada karyawan-karyawan yang bertugas ngecekin aja. Herannya, kami nggak lihat satu pun karyawan asing selama tur itu, boro-boro orang Indonesia, padahal setahu kami ada buaaanyak banget kenshuusei (trainee alias orang magang) asal Indonesia di Aichi, tapi sepertinya mereka kerja di pabrik-pabrik supplier-nya Toyota.

BACK TO MUSEUM

Perjalanan pulang kembali ke museum alhamdulillah lancar.. Musa lebih tenang juga, tambah senang lagi ketika turun bus, mbak guide ngasih dia suvenir mobil-mobilan. 😃

STAY IN AIRBNB AT OSU KANNON

Badan rasanya udah remuk redam begitu kami sampai di penginapan kami di daerah Osu Kannon (konon pusat belanja produk lokal khas Nagoya). Bayangin aja dong, terakhir kami ketemu kasur adalah pagi hari sebelumnya, terus perjalanan 6-7 jam ke Nagoya, Nagoya-Toyota PP 2 jam, ditambah aktivitas hari ini.. fiuhhh.


Travelling memang melelahkan, tapi memori dan pengalaman yang didapat memang tak tergantikan, apalagi kalo kita sengaja menjalaninya dengan epik seperti kami kali ini yang mengandalkan transportasi umum di daerah yang lazimnya orang bepergian dengan mobil. Hehehe.

800 Days


【ムサくんが生まれて2歳2ヶ月、誕生から800日目です】ということだ。

▶️ Today I was reminded by the #childrearing email service of our vicinity that #musaromas turned 800 days this Sunday (7/16). Wow! Apparently I have to make a post to share some thoughts on my mind recently.. (jump to ➡️) ⏭ Pertama, perkara membandingkan. Tidak seperti masa bayi yang perkembangannya cenderung terprediksi timing-nya dan beda tipis antara satu bayi dengan lainnya, di usia-usia segini makin kerasa kalo tiap anak beda-beda kemajuannya di tiap aspek. Ada yang duluan ngomongnya, ada yang duluan “matengnya” (ex: bisa dibilangin), dll. Sangat rawan bagi ortu untuk banding-bandingin anaknya sendiri dengan anak orang lain.. dan saya akuin salah satu tema curhatan saya ke suami ya tentang perbandingan itu (“si anu udah bisa gini, kok M belum ya?”, “anaknya si itu pintar gituan lho, kapan ya M bisa?”, dan sebangsanya, begitu pun sebaliknya kalo M ‘dialem’ alias dapat pujian dari orang lain, dibanggain sambil ambil contoh anak lain sebayanya). Heuheuheu.. •

⏭ Merasa bersalah pasti iya abis itu, padahal mungkin aja emang wajar.. karena ternyata saya dapat info begini dari @babycenter minggu ini: ➡️ No Comparison
It’s tempting to compare your preschooler with his playmates, but it’s not constructive. At this age, kids start developing in wildly different ways. Some focus fiercely on language or motor skills for a time while other skills stagnate. And new skills are acquired at a whole range of “normal” rates. Trust your gut: Does your child seem okay to you? Whenever you have any doubt, don’t hesitate to mention it to his doctor. ⏭ dan kalo ngecek apa yang harusnya bisa dilakukan seorang anak #2yearsold, rasanya nggak ada yang perlu saya khawatirkan. •

Kedua, di sisi lain, saya pun merasa kebahagiaan, ketenangan, kebanggaan, kegemesan kalo M bisa skill baru. Usia balita itu ketrampilan baru tampak kecil-kecil tapi muncul satu demi satunya cepat.. jadi saking banyaknya nggak spesial lagi kaya ketika masih bayi. Ini menguji kami sebagai orang tua untuk kasih perhatian sedekat mungkin ke anak selagi bisa agar kita tidak terlewat jadi cheerleader saat pencapaian.

Ketika momen itu datang, hilang semua rasa khawatir atau envy sama anak orang lain yang udah bisa ini itu, padahal kita cuma tahu dari luarnya aja, bisa jadi ortu anak yang kita iriin itu juga punya kekhawatiran dalam bentuk beda.. rumput tetangga selalu lebih hijau kan?

➡️ Instead of comparing our kid to the others’ kid, cheer every awesome moment our kid made! Accidentally last week I wrote a rant with the last quite was matched to this situation last week about my son…… ❤️ Making lots of phrases!!! (more <something>, buy , play , let’s go, etc.) Alhamdulillah, way to go to make more sentences (so far he only says “Bye-bye, something” and “I want more”). Realizing that he’s not an advanced talker since he was 1.5 years sometimes worries me, but at the other sides, I’ve also made sure based on developmental guides that he’s actually not in speech delay. I just need to believe and keep patient.. and I feel that the most important thing is the way he communicates with others still progressed well. I also learned that the idiom “don’t compare yourself to others yet compare yourself to the person you were yesterday” should be applied in watching our kid. ❤️

Kebetulan yang lain, masih nyambung poin kedua, di email yang saya singgung di awal itu pun dijelaskan bahwa umur dua tahunan ini juga saat yang tepat untuk memberi tanggung jawab kecil ke anak agar percaya diri si anak meningkat. Misalnya, kalo doi berantakin cucian yang abis diangkat dari jemuran, dialihkan aja dengan minta doi untuk bantu melipat baju. Terus jangan lupa memuji kalo doi bisa mengeksekusi instruksi tertentu. ❤️ Fokus ke sikap semacam itu jauh lebih penting daripada cuma banding-bandingin 😜❤️ #selfreminder banget ini

Posted from Ega’s Instagram