Flint Water Crisis: Blood Draw for Checking Lead


Welldone!

Musa had taken #blooddraw to check #leadcontamination in the #tapwater we drink. He drinks nursery water with fluoride added, but probably his pediatrician just wanted to make sure that he’s fine. Look at this happy face after a hand poke. He’s such a brave little guy. The lab staff needed to search for best venous twice in both hands, but she had no clue and asked me instead, “Did he drink?” she said we had to make him well hydrated, then called her senior, the senior said “Nothing greatest, but let’s try” and they forced to inject the needle, got no blood drawed at first and Musa had started crying, but finally they did it, brought about two tubs of bloods. #musaromas only cried mildly (like his cry everybody out there knows) then laughed immediately. 👏🏼👏🏼👏🏼 #toddlerlife #1y6d #MLabs #UofMHospital #labtest #flintwatercrisis #handpoke

Musa hari ini diambil darahnya untuk mengecek kandungan timbal dari air minum (di sini air kran bisa diminum). Jadi ceritanya di daerah #Flint, #Michigan lagi ada kasus air tercemar timbal gitu karena kesalahan manajemen (pipanya udah jadul n karatan bikin logam berat larut dalam air.. Yaiks, kan?) yang mana hal ini bisa mengganggu kesehatan. Sebetulnya Musa minumnya dari air mineral khusus bayi, tapi dokternya meresepkan untuk #cekdarah mungkin untuk memastikan aja apakah dia aman. Agak susah cari pembuluh darah yang pas untuk disuntik tadi. Staf labnya bolak-balik meraba tangan kanan, kiri, kanan, kiri lagi, terus malah nanya apakah Musa udah minum cukup sebelumnya, sampai akhirnya dia manggil seniornya. Senior yang rambutnya udah putih semua ini juga sama nggak langsung dapet, katanya nggak ada yang paling oke, tapi coba aja deh. Diambillah dua tabung darah dan Musa cuma nangis bentar, nangis khas ala dia yang orang pada tahu nggak heboh, lalu ketawa-ketiwi :))

Posted by Ega Dioni Putri via Facebook

[Update May 17]

We got the result of his blood draw. Thanks, Allah, everything is okay. We may continue to give him nursery water with fluoride (next time by storing in refrigerator as instruction in the label.. we were wrong all this time) and sometimes filtered tap water like what we do now.

 

Advertisements

My Story about “Bento to Office”


.:creativega:.

Mungkin sebagian udah pada ngerti bahwa tinggal di negeri orang, apalagi yang mayoritasnya bukan muslim, misalnya Jepang, memaksa ibu-ibu untuk mau, bisa, dan pintar memasak. Oya, sebenarnya “ibu-ibu” dalam hal ini hanya mewakili saja..yang menjalani sih bisa siapa saja, apa pun status visanya saat ini. Oke, kenapa saya nulisnya harus pake tiga kata? karena masing-masing menunjukkan levelnya :razz:.

Mau itu keharusan. Kalo nggak, mau makan apa? Hal ini terkait dua hal, yaitu harga makanan yang mahal (kalo masak bisa hemat 50%) dan perhatian terhadap halal-haram makanan. Dulu, saat ngekos zaman SMA dan kuliah, untuk makan tinggal beli lauk di warung asal dipercaya kehalalannya, beli yang instan di toko asal ada label halalnya, atau makan di luar. Gampang! Saya hampir nggak pernah masak, bahkan saat pulang kampung pun, kalo nggak karena pembantu bolos dan disuruh bantu Mom, mana pernah saya iseng masak di rumah? Nggak ada kemauan sih.. yang namanya…

View original post 1,110 more words

New Jobs After Married (Wife Side)


.:creativega:.

Mumpung puasanya “diundur” sehari, nyempetin nulis blog dulu ah :mrgreen:
Khawatirnya sih kalo udah puasa kan bakal sibuk ibadah (alaaah, sok rajin) apalagi kalo ada bayi raksasa saya di rumah (baca: suami atau bojo dalam Javanese), wuih nggak habis-habis kerjaan di rumah. Mana sempat online.. haha. Nah, nah, yang terakhir ini nih yang bikin saya ingat buat melanjutkan draft tulisan ini. Draft di otak maksudnya, bukan di blog :razz:. Berhubung barusan saya merenung betapa sepinya rumah dan ndilalahkok ya datanglah SMS teman yang nanyain hal terkait v_v

View original post 773 more words