Minna Daisuki


Setiap kali aku bertanya ke Musa tentang siapa teman favoritnya, dia selalu kesulitan menjawab. Sejak kelas nol kecil yang dijalaninya selama dua tahun, karena usia belum cukup umur, hingga kini tinggal setengah tahun di nol besar, jawaban dia tidak berubah: minna daisuki (みんな大好き: I love everyone). Gombal banget, kan? Meskipun biasanya aku pancing dengan nama-nama teman yang sering bermain dengannya di sekolah, dia pasti punya argumen bahwa itu tidak berarti dia tidak suka yang lain. Bagus! Setidaknya di usia prasekolah dia tidak menganggap seseorang lebih dari lainnya dalam hal berteman.

Musa dan teman-teman TK-nya di nol tengah (nenchuu)

Dengan sikap yang sekarang, aku sih berharap nantinya dia tidak terlalu terbawa pada kultur “geng-gengan” di masa sekolah, masa ketika keinginan untuk diterima di lingkungan pertemanan dan juga social pressure mulai muncul. Dulu waktu aku masih SD atau SMP, rasanya aku masih jaim (jaga image) terhadap orang-orang tertentu agar aku bisa dipelihara sebagai kawan baik oleh mereka. Begitu pun sebaliknya, aku kecil seakan membangun benteng dalam diriku sehingga tidak sembarang orang bisa kuterima untuk bermain, bercakap, bahkan bekerja bersama. Persis kayak anak geng di sinetron-sinetron remaja tahun 90-an pokoknya. Ha ha ha. Generasi Alpha kuperhatikan lebih terpolarisasi berdasarkan minat pada keahlian tertentu. Lebih berkualitas lah parameter ngegengnya.

Cuplikan webinar yang pernah kuadakan di RT sini terkait tahapan perkembangan anak

Punya anak yang mudah berbaur dengan orang lain, termasuk orang baru, seperti Musa, enggak selamanya enak. Ada banyak momen malu-maluin juga, misalnya saat berada di pertemuan daring dan dia ngobrol sendiri sama peserta lain … atau seperti kejadian yang baru saja kualami beberapa hari lalu di tempat camping. Musa tiba-tiba menghilang karena main ke tenda sebelah yang banyak anak-anaknya, bahkan kami saja belum berkenalan dengan pemiliknya.

Setiap tahun di kartu ucapan ulang tahun dari gurunya (ganti-ganti guru dan kelas setiap tahun), ada satu komentar yang ajaibnya senada: Musa suka bercerita saat menunggu dijemput dan kami selalu menantikan cerita-ceritanya. Gawat banget pokoknya kalo bertingkah atau ngomong yang aneh-aneh di rumah. Besoknya satu sekolah bisa tahu gara-gara anak yang masih polos tersebut dengan entengnya cerita ke teman-teman dewasanya a.k.a. guru-guru!

Di Jepang, kehidupan personal sebenarnya tidak lazim dibicarakan dengan sesama teman dalam satu lingkaran komunitas, kecuali kepada sahabat yang sangat dekat. Beruntung kami adalah orang Indonesia yang salah satu kearifan lokalnya adalah kepo (rasa ingin tahu yang berlebihan tentang kepentingan atau urusan orang lain―KBBI). Selain di institusi pendidikan dan ruang publik di negeri sakura, anak-anakku juga besar dalam persaudaraan diaspora Indonesia yang hangat, lebih akrab, toleran, gemar bercerita satu sama lain, dan tentu saja punya kebutuhan serupa.

Musa dan beberapa anak sesama diaspora di Jepang (santai kalo foto sama orang Indonesia, tak perlu disamarkan mukanya … ha ha)

Anak-anak diaspora yang sebaya dengan anak-anakku tak kalah memegang peran penting dalam tumbuh kembang mereka. Namun, menariknya, yang aku rasakan nih ya … tidak semua anak-anak, yang orang tuanya udah sobatan, bisa saling berteman baik juga. Tergantung chemistry anak adanya sama siapa. Ini udah aku buktikan berkali-kali, termasuk dari hasil mengamati Noah, anak keduaku yang masih 2,5 tahun. Kadang dengan si A ia bisa selalu heboh, tapi dengan si B sepatah kata pun tak keluar walaupun sudah beberapa kali bertemu. Ha ha ha.

Noah juga dikader untuk berteman dengan anak-anak diaspora sejak masih di dalam kandungan

Ngomong-ngomong tentang chemistry, bukankah kitaーmanusia dewasaーjuga dibekali mekanisme untuk menjadi selektif dalam berteman? Agama dan moral aja mengatur. Maka, sudah seharusnya kita ajari anak-anak kita agar mampu memulai pertemanan dan memilih teman yang benar. Bukan mencari teman yang destruktif, melainkan yang konstruktif. Kalo pun ada teman yang perilakunya kurang sesuai, semoga mereka bisa memfilter dan mengambil hal baiknya saja.

Tak apa jika nantinya ia tidak lagi bisa berkata minna daisuki asal mereka bisa selamat dunia akhirat. Aamiin.

One thought on “Minna Daisuki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s