Our First Fishing


Fishing is not our interest, but #musaromas loves it.. someday in the daycare he cried for a long time after separation with me and it was the fishing toy which stopped his cry 😂 Another new experience we finally checked off because “we are parents” 😆 #ea5512 .. Udah deket kepala tiga papa mamanya Musa baru nyobain mancing #salahpergaulan 😂 Musa nyobain juga pegang kailnya dan pas giliran dia 2x dapat ikan dari total 4 ikan yang sedang sial kesambet.. yaa, yang berhasil ngejebak kami lebih banyak lagi, mereka nyosor paletnya doang tapi berhasil kabur tanpa kepancing 😫. Sayangnya, ikan-ikan ini nggak bisa dibawa pulang. Awalnya mikir kok pelit ya.. tapi kemudian setelah nyobain kasian juga kalo ikannya boleh diambil.. bisa tekor bakule. 😬 Jadi, lapak ini cuma buat having fun aja dan belajar buat yang masih bodoh kek kita-kita. Ekekek. 🐠 .. Setelah nyobain kayanya mancing itu emang soal untung-untungan aja sih, nggak ada trik khusus soale dicoba pakai strategi pun kadang berhasil kadang kagak, seperti: – cari area yang dikit ikannya biar makanan ikan di kail nggak jadi rebutan dan ujung-ujungnya lenyap saking banyaknya yang nabrak – tarik ulur kail untuk mempertahankan palet tetap utuh sebelum kita berhasil nangkap ikan sasaran. .. Intinya mah cuma SABARRR.. tapi tetep usaha ❤️

A post shared by Ega Dioni Putri (@egadioniputri) on

Advertisements

Health Check Up for 3 Years Musa


Another to-do-list for 3yo kid in Japan is.. going to the city health service office for medical examination (3歳の児健診). See his transformation from his 1.5 to 3 yo checkup in a-minute video from my Youtube channel below (better quality than the one uploaded on my Insta)

Di Jepang, buat anak bayi, pergi ke posyandu sekitar 3 bulan sekali plus sekali saat usia sebulan. Setelah itu baru diwajibkan datang lagi ketika usia 18 bulan (1,5 tahun), 3 tahun, lalu 6 tahun. Mayan lama kan jedanya? Emang nggak perlu sering-sering kayanya karena sekali datang bisa ngabisin waktu seharian mungkin untuk persiapan dan pelaksanaannya. Ortu diminta ngisi berbagai angket yang harus diserahkan saat datang, misalnya buat kali ini (usia 3 tahun) ada:

👦🏻 Angket perkembangan anak —> tentang gimana siklus hidup sehari-harinya si bocah, perilaku anak, kondisi mama, dsb. lumayan banyak jadi diisiin papa Aisar biar mama nggak pusing baca kanjinya 😀

👦🏻 Angket penglihatan and pendengaran —> ortu diminta melakukan serangkaian tes untuk mengecek kondisi mata dan telinga anak dengan alat dan metode yang sudah disediakan

👦🏻 Tes urin —> ini juga bukan pekerjaan staf posyandunya, tapi emak babenya.. mereka udah ngasih wadah dan botol kecil buat nampung pipis pertamanya anak di pagi hari tes, buat yang masih pakai popok juga ada alatnya

.. dan ada beberapa yang harus dibawa kaya sikat gigi, buku catatan kesehatan, kartu asuransi, kuesioner buat ortu yang juga mau cek darah (disediakan di lokasi yang sama).

Pulangnya juga dapat oleh-oleh bacaan segepok seperti biasa yang entah kapan akan selesai dibaca semua karena musti diterjemahin satu-satu 😅

Ramadan with Musa in One-Minute Video


Interview with Musa about His Daycare Experience


An interview with #musaromas yesterday (11/28) in his typical way of speaking. Kata-kata ngehitnya Musa zaman now: sensei, sugoi, oishisou, arigato 🤣 Di akhir itu doi nyanyi lagu Jepang yang nongol di TV tentang gandengan tangan 😬 • • Went to the temporary daycare for the 2nd time and got better than the 1st experience. Based on the instructor's note, he cried only in the first few minutes. They told me to take the kids outside for disaster prevention. Unfortunately I couldn't see and feel sure if they really did it (forgot to ask because I picked Musa in the middle of my errand and needed to go back soon, but if you believe in Musa's answer in the video, so they might be only going to the park instead 😅). • • #toddlerspeaking #2yearsold #multilingualkids

A post shared by Ega Dioni Putri (@egadioniputri) on

Musa’s Words in Three Languages


Random movies about how #musaromas learns to use different languages in his daily life 🎥 taken between mid Oct – mid Nov 2017 (29-30 months old). . He barely made a complete sentence, but recently after hitting #2andhalfyears he surprised me by saying long sentences such as: "Mama, (my) towing truck (is) missing" "Papa (is) coming home soon?" "Aksan rides airport bus" "Let's go (to) see yellow tree" "Doctor (in) ambulance (checks the) boy('s) tummy" (Kata-kata dalam tanda kurung itu yang tidak dia sebutkan, masih belum sempurna kalimatnya wkwk) • 頑張れムサくん! • • 📚 "From 2 to 2 1/2 years, your child talks a lot, mostly in sentences. He uses personal pronouns 'I', 'me', and 'you'. 'He' and 'she' soon follow." . 📚 "From 2 1/2 to 3 years, he talks in sentences of at least three words and is able to understand complex requests. He know 500-1000 words including prepositions." . (Baby and Child Development, DK Publishing) • • Cuplikan dari tulisan "An Awesome Two Years" di blog #ea5512: . 'Udah bisa ngomong belum?' 'Musa nggak bingung tuh bahasanya campur-campur?' 'Musa ngomongnya bahasa apa?' . Ngomongin soal kemampuan berbicara, tiga pertanyaan di atas jadi most frequently questions sepanjang masa lah buat kami. Hehehe. Buat yang suka ngikutin Instagram Story saya mungkin bisa menilai sendiri ya sejauh mana Musa ngomong dari melihat interaksi Musa dan Papa Mamanya. Sebagai anak multilingual, kasus Musa ini emang agak unik. Alih-alih bahasa ibu (bahasa Indonesia), dia justru tumbuh dengan bahasa yang asing bagi orang tuanya (bahasa Inggris), tapi tinggal di lingkungan yang menggunakan bahasa lain (bahasa Jepang) dan juga terkadang mendengar bahasa Arab atau Jawa…." (Baca lanjutannya sendiri yaa 😬) • • #toddlertalk #languagedevelopment #multilingualkids #belajarngomong

A post shared by Ega Dioni Putri (@egadioniputri) on