Eid Mubarak 2018


Posted from egadioniputri‘s Instagram with improvement

HAPPY EID from our family to yours! Never stop spreading #love because our creator is Ar-Rahman Ar-Rahim 🧡

Mohon maaf lahir dan batin ya, gaes.. tulung dibukakno lawang pangapura sakombo-ombone kanggo arek telu ndhek foto iki 🙏🏻 .

family eid picture at odaiba, tokyo, japan

Walking around Odaiba with Om Fio after Eid prayer

Saking keasyikan #bermaafmaafan sampai lupa upload ucapan sendiri di mari, jadi jatuhnya sudah hari #lebaran kedua untuk wilayah Jepang 😬 Lebaran yang sangat berkesan bagi saya karena kehadiran adik @fioagani ke Tokyo (waza-waza dateng dari Niigata), jadi berasa terobati kerinduan akan keluarga di Indonesia. Karena dialah ada sesi foto di atas, maklum ngajakin turis main. 😆 . Continue reading

Advertisements

Swiss for Real (Part 1)


Despite numerous travel experience with Musa (now 2y10m) only, I never made plan as detail as our journey to Swiss Alps two weeks ago (3/7-8). Still, I’m not confident to consider it as itinerary because I only wrote down the timing of transportation (travel duration and availability) and rough to-do-list description. Our trips often went impulsively, unplanned, and yielded unpredictable results 😀 At least, starring places in the G Maps application on phone prior to trip is really life safer. We can find alternatives quickly when shit happened at the spot without spending much time to googling. It’s been a habit for Aisar too. Even when three of us are going together, it doesn’t mean the trip will run more organized. No itinerary has been our trip behavior since having kid. LOL.

Okay, let’s go back to my Suisse trip.. don’t let my confession deter your spirit to fly high, especially if you’re a mom like me who has no choice but carrying your kid(s) everywhere 😛

Bulan Oktober lalu, saya terlibat obrolan dengan seorang teman yang anaknya beda sebulan dengan Musa. Kami sama-sama suka kabur dari rumah kalo pas suami dinas ke luar negeri demi mengusir rasa bosan dan kehilangan. Pada saat itu saya memuji dia yang berani main jauh sama anaknya ke Kyoto pakai nginap segala karena saya levelnya cuma menjelajah Tokyo dan sekitarnya aja yang pergi pagi dan pulang malam. Belum pernah kepikiran ajak Musa nginap tanpa suami di usianya yang udah susah dikendaliin ini, padahal kalo diingat, saya pernah bermalam sama bocah aja di Dallas, Texas, selama 2 hari 2 malam karena saya nggak bawa paspor dan nggak bisa balik ke Michigan sehingga kepulangan harus diundur, tapi emang Musa masih setahunan, lebih nurut. Wakakak. Yang kedua, ternyata saat mudik kemarin kejadian lagi menginap dadakan kaya gitu, cuma kali itu di Cirebon dan nggak ke luar hotel sampai dijemput (baca di sini).

Di Swiss ini, barulah bisa dihitung sebagai perjalanan berdua emak dan bocah yang diniatin. Meskipun hanya 2 hari 1 malam penuh, pengalaman ini cukup membuat saya ketagihan. Bedanya dengan pergi sendiri di Indonesia tentu karena nggak bisa dikit-dikit manggil ojek atau taxi, yang mana bikin saya kerepotan kalo anak udah rewel, baterai hape mau habis, dan tempatnya antah berantah. Oleh karena itu, seperti diceritakan di atas, demi mulusnya perjalanan impian ke pegunungan Alpen Swiss, saya benar-benar pelajari medan sebelum pergi. Walaupun masih jetlag karena baru tiba di bumi Eropa kurang dari 48 jam, we did it!

Continue reading

Paris at Glance


Posted from egadioniputri’s Instagram Besides #Eiffel and other incredibly marvelous old buildings, the way words pronounced in French language, perfection of taste in their “boulanger-patissier” products ARE two things we can’t forget from #Paris visit. See you maybe! #ea5512 . . Hawa Paris emang romantis-romantis gimanaa gitu walaupun pemandangan di kota normal aja, sama sekali jauh dari bayangan “tabu” yang ada di kepala saya. Atmosfer itu bikin saya kebawa juga pose rada mesra dikit cuma nggak tega lah upload foto love-love di mari 💕 Wkwk. Sebelum kami datang malah sempet suami cerita kondisi di ibukota negara tetangga Jerman lain yang tempat pelacuran udah kaya kombini (baca: minimarket) di Jepang aja, ceweknya kelihatan dari luar kaca-kaca toko. Di Paris, paling banter saya lihat beberapa pasangan gay aja lagi jalan bareng (tetep jijay.. yaiks!). Sikap masyarakatnya terhadap saya yang hijaber juga baik-baik aja, nggak jutek, diskriminasi, atau memandang dengan curiga. Alhamdulillah banyak temen jilbaban di mana-mana juga 😂 . . Buat saya pribadi, yang paling mengherankan dari kota ini, setelah menyaksikan bukti-bukti pembangunan zaman Napoleon dkk. dulu dari teratur, megah, dan awetnya bangunan-bangunan tua, tapi kok tampaknya masyarakatnya kini kurang bergairah membangun dibandingin negara-negara Eropa lain yang udah saya kunjungin. Hampir semua stasiun nggak ada akses eskalator/lift, fasilitas di tempat-tempat publik apa adanya dan bad design dari segi fungsionalitas (nambah navigasi aja males kayanya 😝), pelayanan terhadap konsumen juga payah (harus kitanya yang proaktif minta/nanya), alam pun tak ada yang dibuat menarik. Pokoknya pas beberapa jam pertama aja kesan saya langsung “kaya Jakarta”. Kalo nggak ada bangunan-bangunan kuno keren mungkin aja beneran gitu.. Wkwk. Meski begitu, saya salut tempat sampah gampang ditemukan, industri fashion dan kuliner warbyasak. Makanan nggak ada yang nggak enak, desain baju di “atelier-atelier” pinggir jalan nggak ada yang jelek 😆. . . Mengingat suami saat ini kerjanya di perusahaan Prancis, tapi nggak pernah disuruh ke sana untuk business trip, malah ke Jerman, jadi ngeh sih kenapanya. They’re not one of those leading countries in technology 🙂

Epic Traveller


“The more hours we travel, the more challenges we meet in the journeys, which otherwise kill us, will make us stronger.” Hello, 2018! We’re ready for whatever harder-test ahead, in shaa Allah 🙂 • Menjelang akhir rangkaian perjalanan mudik pergantian tahun ini, saya dan Musa gagal turun di st. Bumiayu, tempat leluhur suami. Terpisah dr suami, kereta ekonomi itu membawa saya dan si kecil ke Cirebon atas saran para petugas kereta yg menilai 3 stasiun setelah Bumiayu tidak aman untuk didatangi di tengah malam itu saking cilik dan sepinya. Walaupun udah biasa bawa anak sendiri jauh-jauh, tapi #iniIndonesia, bo, yg tak seaman Jepang, jadi rada cemas juga begitu tahu harus pergi sendiri di kota asing. • Kejadian ini menambah panjang daftar #epictrip keluarga #ea5512 selain diantaranya: 1️⃣ Nekat keluar bandara demi keliling Taipei selama transit 3 jam, naik kereta + taksi, taksi pulangnya disuruh ngebut sampe pas di depan stasiun sopirnya bilang “AAMIITABAA” saking leganya abis sport jantung. Wkwk. Telat sekian detik aja bisa ketinggalan kereta ke bandara dan pesawat ke Indonesia. 😅 2️⃣ Ketahan di security Detroit dan terancam nggak bisa balik dari Texas krn ga bawa paspor (padahal perjalanan domestik, ga kepikiran bawa paspor). Akhirnya saya dan Musa nginep di Dallas 2hr lebih lama demi nunggu paspor dikirim suami. Dallas ada kereta/bus, tapi takut dijahatin, orangnya jarang, yg kelihatan pun byk muka preman 🙈 3️⃣ Setelah hampir 10 jam road trip ke bandara NYC, batal naik pesawat akibat pembatalan flight sepihak dr maskapai, gegoleran di bandara malam dan paginya (lagi) demi minta dispensasi, tapi tetap ga bisa berangkat ke Arizona, yg membuat kami masih memimpikan Grand Canyon hingga kini. 4️⃣ Gagal terbang ke UK krn dituduh nggak punya visa transit di Dublin, maskapai yg jual tiket VS maskapai operator beda pendapat, secara hukum kami yakin benar, ngajuin tuntutan untuk minta ganti rugi via agen dan masih diproses sampai sekarang. Syukurlah kegagalan itu diganti Allah tahun depannya. . . Travelling isn’t merely fun 😜 I can’t agree more to Rangga’s quote in AADC 2 about “travelling VS holiday” and travelling is where we were all this time. #koboimama

A post shared by Ega Dioni Putri (@egadioniputri) on

Sumatra Trip: Minang Wedding


We departed for Padang on Dec 21st from Surabaya after spending one night in my aunty’s home in Sidoarjo before. Arrived at IBIS Padang when Maghrib was almost over, we stopped by Masjid Sumatra Barat, which then becomes the most unique mosque architecture I’ve ever seen. After checking in the hotel, we started looking for culinary (of course! who doesn’t love Minang cuisine? <3) and ended up eating Sate Padang Donguang-Donguang (ok, I know it’s weird name). Don’t ask me what and why about that place because Aisar decided such things as usual. Alhamdulillah, I was satisfied with their authentic satay and also got to try teh talua (teh telur) alias egg tea – the tea is literally mixed with the egg. Yucks! But, believe me, it’s YUM! Tasted like milk tea for me.
Continue reading