Epic Traveller


“The more hours we travel, the more challenges we meet in the journeys, which otherwise kill us, will make us stronger.” Hello, 2018! We’re ready for whatever harder-test ahead, in shaa Allah 🙂 • Menjelang akhir rangkaian perjalanan mudik pergantian tahun ini, saya dan Musa gagal turun di st. Bumiayu, tempat leluhur suami. Terpisah dr suami, kereta ekonomi itu membawa saya dan si kecil ke Cirebon atas saran para petugas kereta yg menilai 3 stasiun setelah Bumiayu tidak aman untuk didatangi di tengah malam itu saking cilik dan sepinya. Walaupun udah biasa bawa anak sendiri jauh-jauh, tapi #iniIndonesia, bo, yg tak seaman Jepang, jadi rada cemas juga begitu tahu harus pergi sendiri di kota asing. • Kejadian ini menambah panjang daftar #epictrip keluarga #ea5512 selain diantaranya: 1️⃣ Nekat keluar bandara demi keliling Taipei selama transit 3 jam, naik kereta + taksi, taksi pulangnya disuruh ngebut sampe pas di depan stasiun sopirnya bilang “AAMIITABAA” saking leganya abis sport jantung. Wkwk. Telat sekian detik aja bisa ketinggalan kereta ke bandara dan pesawat ke Indonesia. 😅 2️⃣ Ketahan di security Detroit dan terancam nggak bisa balik dari Texas krn ga bawa paspor (padahal perjalanan domestik, ga kepikiran bawa paspor). Akhirnya saya dan Musa nginep di Dallas 2hr lebih lama demi nunggu paspor dikirim suami. Dallas ada kereta/bus, tapi takut dijahatin, orangnya jarang, yg kelihatan pun byk muka preman 🙈 3️⃣ Setelah hampir 10 jam road trip ke bandara NYC, batal naik pesawat akibat pembatalan flight sepihak dr maskapai, gegoleran di bandara malam dan paginya (lagi) demi minta dispensasi, tapi tetap ga bisa berangkat ke Arizona, yg membuat kami masih memimpikan Grand Canyon hingga kini. 4️⃣ Gagal terbang ke UK krn dituduh nggak punya visa transit di Dublin, maskapai yg jual tiket VS maskapai operator beda pendapat, secara hukum kami yakin benar, ngajuin tuntutan untuk minta ganti rugi via agen dan masih diproses sampai sekarang. Syukurlah kegagalan itu diganti Allah tahun depannya. . . Travelling isn’t merely fun 😜 I can’t agree more to Rangga’s quote in AADC 2 about “travelling VS holiday” and travelling is where we were all this time.

A post shared by Ega Dioni Putri (@egadioniputri) on

Advertisements

See Narita Outside The Airport


What attractions can make you come to Narita city other than the needs for its airport? Not many. Even the nearest shopping center (Aeon Mall – if you need to buy more specific product rather than gift shops inside the airport) is still a few kilometres away from the airport. Narita was just a spacious farming area in the northern Chiba which then transformed into “city” after Japan’s main airport is built there. However, although there is a few attractions in the area, according to my little research, some places are very interesting for us such as:

and out of Narita City yet still within vicinity

By the way, what’s all this talk about Narita? Is it a recommended place to go? Hehe.. yeah, we never aimed to explore out of the airport too until one day in the last month, Aisar had to spend one night in a hotel at Narita city because he had morning flight to Germany for another business trip. It would be rushed to arrived at the airport if he took train in the Day-D. Of course, I and Musa got along him with pleasure 😀

Once Aisar flied, mom and son adventure begun! Unfortunately, we could only make to Aero Museum and Narita Shinsoji temple, plus bonus walking down the historical Omotesando shopping street. You can watch a glimpse of both places in my photos and videos below.
Continue reading

Free Kids-Fun Indoor Tokyo: Fire Museum


A member in Tokyo Playdates group I follow on FB shared that his kids had fun at “Fire Museum” in the post I commented when I really needed idea to take Musa out with zero yen. In the next day after I read his comment, I repeated my trip to Shinjuku, exactly with the same route like our visit to Shinjuku Gyoen, except I had to go two more stations farther.

Generally, Musa enjoys outdoor places more than indoor destinations, moreover museum, but recently he used to be afraid to the darkness and big displays of museum. LOL. With this Yotsuya Fire Museum he was so. We entered from the basement, which has real-size of fire trucks from now and old ages, and the most scary thing for him, which actually super cute: toy fire-truck with a character robot that can respond you if you step in the designated point by moving its head.

Continue reading

Trip to Aichi – Day 2


We had unforgettable experience in the Day 1 from Toyota city. This second day we met our Japanese friends, who were fellow Michiganders, at Kariya city, and visited an Indonesian food company at Nishio city, Sariraya. Both cities are located in the southern Aichi.

BREAKFAST WITH LEFTOVERS

Menginap di AirBnB itu enaknya bisa masak atau ngangetin makanan, minimal buat sarapan lah.. lumayan banget menghemat waktu. Dibandingkan harus ganti baju untuk keluar beli makanan dulu atau sarapan di ruang makan (kalo hotelnya nyediain), mending usaha dikit buat ngusir rasa males-masak-karena-liburan demi sepiring nasi dan telur dadar 😜. Nasi pun kalo di Jepang ada yang instan jadi tinggal dipanasin aja.. tapi pagi ini kami kebetulan masih punya sisa dari makan malam di restoran halal Kashmir kemarin. Makanan Pakistan nggak pernah gagal memuaskan selera kami deh pokoknya, walaupun rada aneh dan baru pertama kali ini lihat nasi biryani pakai beras Jepang 😂. Segitu susahnya kah dapetin beras basmati di sana? 🙄

Pakistani naan bread and mutton curry from Kashmir restaurant, Nagoya. We could finish only half of it and ate the leftovers for breakfast in the next day.

Pakistani chicken biryani, tandoori, seekh kabab, etc. from Kashmir too

Musa yang biasanya suka kambing tumben lebih tertarik ke naan (doi tetep gigih nyebutnya “pizza”) dan tandoori kali ini. Sarapan doi adalah dua itu tadi plus yogurt dan jeruk. BTW, saya sering ditanya tentang hal ini oleh teman-teman yang bawa anak kecilnya pergi dan biasanya saya bilang makanan doi sama aja kaya papa mamanya, cuma saya tambahin lemak dari yogurt, keju, atau kacang-kacangan atau yang dia suka semacam buah-buahan.

TV di penginapan alhamdulillah akhirnya bisa nyala juga channel digitalnya setelah diutak-atik Aisar, jadi Musa bisa tetap nonton program-program anak NHK pagi hari dan senam kecil dari situ 😆 Continue reading

Trip to Aichi 2017 – Day 1


Second long trip since we moved to Japan a year ago, this short escape also became our second visit to Aichi prefecture. We expect this time we’ll hpave quite enough time to explore Nagoya since at past we only checked in here to get off and ride the night bus, plus plan to visit some other cities as our destination now with the motivation to look for kid entertaintment 🤣.

(Lanjut dalam Bahasa)

Bus ke Nagoya dijadwalkan berangkat hari Kamis kemarin, 12 Okt, pukul 11.25 PM. Malem banget? Iya, namanya juga bus malam 😛 dan di Jepang ini mau ke mana aja kalo naik bus malam biasanya diset biar sampai tujuan pagi jam-jam 6-7 lah, jadi berangkatnya pasti larut, dihitung mundur dari waktu perjalanan, tergantung tujuannya. So far, satu atau dua dari kami udah pernah coba bus malam ke Osaka (2010), Nagoya (2011), dan Okayama (2012) dengan merk bus yang berbeda-beda. Jadi misal kalo ke Osaka berangkatnya lebih awal daripada ke Nagoya, tapi sampainya tetap kurleb sama jamnya. 

Kali ini, kami menjatuhkan pilihan pada Willer Express bus. Untuk tarif bisa dicek di situsnya, ya. 

DEPARTURE

Berhubung jam berangkat udah lewat jam tidur Musa, tentu saja kami berharap bisa menidurkan doi dulu sebelum berangkat. Cuma hari itu sibuk bangettt.. seharian saya nganter doi ke jidokan (children hall) buat ikut kumpul bocah, abis itu belanja grocery, ngurusin cucian karena ada baju yang mau dibawa, ngurusin sisa bahan di kulkas (baca: masak), packing, dan ada acara ngejahit jaket dan daster rusak segala. Maksa banget mau bawa baju yang lagi sobek. Itu belum termasuk nafsu datang ke matsuri di stasiun tetangga sore harinya. Hahaha. Aisar pun yang katanya iya-iya pas diajak ke matsuri, ditungguin nggak pulang-pulang dan jam 9 malam baru di rumah 😣 Alhasil, si bocah gagal bobo sampai duduk di bus. 🚌 

EA5512 Kamata to Nagoya

Departed from Keikyu Kamata station near our home on 10:53 PM

Right across the Yodobashi Camera, Le Front Kawasaki, our bus was ready to go on 11:30 PM

 

Alhamdulillah meskipun tidurnya telat, setelah bunyi bip jam 12 malam dari arloji terdengar, ditambah dengan suasana baru, Musa tetap bisa merem dengan mudah. Langsung mapan sendiri dan narik selimut. Berhenti di rest area pertama pukul 3.00, hanya saya yang turun untuk pipis. Barulah ketika berhenti di rest area kedua pukul 5.00 Musa terbangun, nemenin Mama shalat Subuh di ruang ganti yang tersedia dekat area toilet, dan minum-minum dikit. Abis itu mulai drama, nggak bisa tidur lagi! Mau jalan ke depan di saat bus udah jalan, lalu setelah nangis-nangis dilarang diamnya karena dipangku Mama sambil lihat jendela. Sayangnya, baru sebentar pulas udah harus turun karena tiba di Nagoya eki.

The second rest area we stopped by (around 5 AM) at Yabe, Shinsiro, already in Aichi

My first time to see washlet from brand other than TOTO


HEADING TOYOTA CITY

Setelah sarapan, ke toilet, dan beli tiket di one day pass untuk subway dan bus, sekitar sejaman transit di stasiun Nagoya lah, kami langsung naik kereta menuju Toyota. Masuk penginapan (pakai jasa AirBnB) direncanakan baru akan sore ini menimbang rute yang kami lalui. Tujuan utama hari pertama ini adalah ikut tur ke pabrik Toyota. Perjalanan totalnya satu jam lebih dikit, harus ganti kereta 2x, dan jalan kaki 10 menit.

Day pass ticket for subway and bus around Nagoya. We just need to adjust the fare (by paying more cost) if we go out of the covered zone.

Toyotashi station, welcome to the suburb area 😛


Bagi yang nggak terbiasa pakai tiket one day pass, jangan kaget kalo pas sampai stasiun tujuan.. tet teeeet.. tiketnya error kagak bisa keluar. Itu tandanya saldo kurang karena kita ke stasiun yang tidak tercakup dalam zona one day pass. Cukup datang ke loket di dekat ticket gate untuk bayar selisihnya.

Toyota city view, this is the main road where’s the Toyota head quarter office is located

That building is the Toyota main office

Flowers we met on the way

 

Begitu menjejakkan kaki di Toyota, langsung deh aura ndesa menyergap.. duh, ini mirip kaya Ann Arbor deh, meeen! Sepi, banyak ijo-ijoan, orangnya santai, tapi gedung-gedung perkantoran tinggi gede dan truk-truk cargo ukuran jumbo kelihatan di mana-mana.

ARRIVED AT TOYOTA AUTOMOBILE MUSEUM

Setelah sempat nyasar masuk ke halaman head office Toyota, tibalah kami di museum mobilnya Toyota yang sebenarnya cuma sebelahan sama si kantor utama. Di meja resepsionisnya museum inilah kita harus lapor kalo kita mau ikut tur dan udah daftar via website. Ntar dikonfirmasi sama mereka data kita, informasi harus kumpul di mana jam berapa, dan dikasih name tag. Nah, sebetulnya tur ini cuma boleh buat anak tiga tahun ke atas, jadi Musa maksa dulu hari ini.. habiiis kapan lagi, kan. Wkwk.

Susah banget buat dapat kesempatan ikut tur pabrik ini. Kebetulan kami beruntung dapat slot kosongnya hari ini aja, sedangkan kuota grup hingga bermingu-minggu kedepannya udah penuh. Awalnya pun mau daftar grup yang pakai English, tapi sama juga itu malah lebih duluan penuh jadi kami terpaksa ikutan yang nihongo 😪 Kalo buat turis luar Jepang mungkin lebih susah lagi ya ngepasin jadwal dan dapat jatah kuotanya, kecuali jauh-jauh hari banget direncanakan.

Selama menunggu saat kumpul peserta tur, kami punya waktu 40 menitan buat eksplor museumnya. Di lantai 1 lebih kaya showroom mobil, terus di lantai 2 ada souvenir shop dan exhibits for children. Musa seneng banget bisa nyobain macam-macam mobil, tapi pas diajak naik pick up  emoh-emoh doi.. gede dan tinggi soalnya. Udah lupa dulu padahal hidupnya di US sering ketemu yang begituan. Haha.

Toyota Automobile Museum 1st floor: Show room for newest generations of Toyota products

Unlike in an expo, you can try to ride the cars without queueing (case study: Friday 😬)

Toyota 86

Toyota 86 in my fave color 😍

Miniature collection

We met the primary students on study tour


Selama tur peserta dilarang mengabadikan kegiatan di pabrik dalam bentuk apa pun, jadi alat elektronik harus disimpan si loker atau ditinggal di bus. Lokernya kecil banget jadi saya cuma naruh isi tas yang nggak penting dibawa (a.k.a. amunisi di saat lapar) dan HP ditinggal di bus.

TOYOTA PLANT TOUR

Dari awal kami dateng petugas bilang kalo grup English ada kosong kami akan diikutkan, tapi ternyata nggak ada yang bolos atau cancel hari itu 😭. Yowess lah sekalian mengasah keterampilan listening (eaaaa..).

Killing time in the bus 🚌 from museum to plant area by drawing

Bawa anak 2,5 tahun yang maunya gerak seenak dia sendiri dalam agenda ini tentu saja tantangan yang luarrr biasa. Di museum kami udah mencoba bertabah dengan berbagai tingkah random-nya.. pengen keluar masuk museum lah.. naik-naik mobil yang dipamerin nggak selesai-selesai lah.. bikin hopeless mau bawa ke pabrik. Deg-degan juga karena dari kematangan sikap dan posturnya nih bocah emang masih cocok jadi anak satu tahun. Hahaha. Cuma mau gimana lagi, udah penasaran banget, cyiiin.. untungnya mbak-mbak petugas dan peserta lain nggak ada yang kepo nanya-nanya umur Musa sebenarnya berapa.. wkwk 😆
Singkat cerita, setelah kumpul pukul 11.00 lalu naik bus dari mereka selama 20 menit, kami sampai di kawasan pabriknya. Super duper luas kompleknya (ya iyalah pabrik mobil gitu lho..). Berhubung nggak boleh ambil foto di dalam, jadi saya cuma punya foto dikit penampakan pabrik dari luar.

Toyota plant area (view from the bus)


Pamphlet about plant tour and museum on English

Meskipun penjelasan di bus dan pabrik dalam bahasa Jepang, saya agak terbantu dengan pamflet bahasa Inggris, terjemahan teks-teks yang disertakan di papan-papan, dan tentu saja bapak translator yang selalu ada di dekat saya (uhukkk… makasih, bojo!) walaupun nggak semua kata-kata guide bisa doi terjemahkan akibat kami berdua sibuk mengkondisikan si balita. Heuuu.. 😢

Informasi yang berhasil saya tangkap selama tur nanti bakal saya tuliskan ya, tapi sekarang belum sempat rekap. Sementara bisa download scan pamflet (English) di sini dulu. Yang pasti, tur pabriknya KEREN pake BANGET! Dari pengalaman kengaku pabrik sebelum-sebelumnya, sepertinya ini adalah yang terpanjang kami jalani, padahal mereka cuma bawa kami keliling di dua proses: welding (pengelasan) dan assembling (perakitan). Itu aja udah tepar banget pulangnya. Nggak kebayang kalo semua proses mereka tunjukkan dan perjuangan kami bikin anak-cilik-yang-selalu-pengen-ngebolang-sendiri bisa bersikap manis menjadi lebih dari dua jam.. kutaksangguuupp. 😂

Dari kunjungan ini saya malah salah fokus ke para karyawan Toyota. Mereka kelihatannya kerja keras banget bagai robot. Kecepatan dan urutan geraknya udah kaya terprogram, bahkan bakal ada alarm yang bunyi kalo ada step yang telat dikit selama perakitan mobil. Kalo tahap welding semuanya dikerjain robot beneran dan ada karyawan-karyawan yang bertugas ngecekin aja. Herannya, kami nggak lihat satu pun karyawan asing selama tur itu, boro-boro orang Indonesia, padahal setahu kami ada buaaanyak banget kenshuusei (trainee alias orang magang) asal Indonesia di Aichi, tapi sepertinya mereka kerja di pabrik-pabrik supplier-nya Toyota.

BACK TO MUSEUM

Perjalanan pulang kembali ke museum alhamdulillah lancar.. Musa lebih tenang juga, tambah senang lagi ketika turun bus, mbak guide ngasih dia suvenir mobil-mobilan. 😃

STAY IN AIRBNB AT OSU KANNON

Badan rasanya udah remuk redam begitu kami sampai di penginapan kami di daerah Osu Kannon (konon pusat belanja produk lokal khas Nagoya). Bayangin aja dong, terakhir kami ketemu kasur adalah pagi hari sebelumnya, terus perjalanan 6-7 jam ke Nagoya, Nagoya-Toyota PP 2 jam, ditambah aktivitas hari ini.. fiuhhh.


Travelling memang melelahkan, tapi memori dan pengalaman yang didapat memang tak tergantikan, apalagi kalo kita sengaja menjalaninya dengan epik seperti kami kali ini yang mengandalkan transportasi umum di daerah yang lazimnya orang bepergian dengan mobil. Hehehe.