Meretas Perasaan Minoritas


Pertanyaan yang paling sering kudapatkan sebagai mama di negeri rantau adalah bagaimana aku menyediakan pendidikan agama untuk anakku. Aku rasa, diaspora Muslim secara garis besar jawabannya sama: diajarin sendiri di rumah. Eh, bukankah di Indonesia pun mustinya begitu? Mau sekolahnya sebagus apa juga percuma kalau di rumah enggak di-follow up. Nah, lingkungan yang seolah jauh dari kondisi ‘semesta mendukung’ di Jepang memberikan tantangan tersendiri. Kadang merasa hopeless saat menjelaskan sesuatu kepada penduduk lokal.

Lalu, apa jalan yang kami tempuh untuk memenuhi kebutuhan rohani anak-anak di Jepang?

Dua prinsip kami antara lain sebagai berikut:

(1) Tidak menjadikan pencapaian anak-anak di negara dengan Muslim mayoritas sebagai acuan bagi anak-anak kami yang tinggal di negeri minoritas. Pusing sendiri kalau lihat ponakan yang sekolah TK Islam di Indonesia udah hafal Juz ‘Amma, sedangkan anak kami masih kadang lupa bilang bismillah selain itadakimasu (ucapan orang Jepang sebelum makan yang artinya kurang lebih “diterima ya makanannya”).

(2) Perlu komunitas untuk membentuk rasa percaya diri dan bangga pada anak akan identitasnya sebagai Muslim. Kita aja yang besar butuh teman untuk menjadi istikamah dalam beribadah, apalagi anak-anak yang masih belum ada kesadaran sendiri?

Berikut ini komunitas yang diikuti abang Musa (6 tahun) terkait pemenuhan sisi spiritualnya:

  • Madrasah Masjid Kamata
    Sebelum pandemi melanda, Musa sempat bergabung dengan madrasa yang diadakan oleh imam masjid dekat rumah kami. Setiap habis magrib hingga menjelang salat Isya, ia berada di kelas sebagai peserta termuda, belajar baca tulis huruf Arab dan Inggris, menghafal doa / hadis / surat-surat pendek dalam Alquran dan juga tata cara beribadah. Meskipun bahasa mayor kelas itu adalah Bengali dan sang guru hanya menerjemahkan sedikit penjelasannya dalam bahasa Inggris kepada Musa, ia tidak pernah mogok dan mau berusaha. Kulihat dia senang datang karena bertemu teman-temannya yang senang mengemongnya.
  • TPA PM KANTO
    Komunitas pengajian muslimah (disingkat “PM”) yang kuikuti kembali mengaktifkan program TPA untuk anak-anak anggota ketika Musa mulai bisa membaca huruf hijaiyah. Sebelum pandemi, ia mengikuti temu darat dan online meeting sekali per bulannya. Di sini, ia bisa membuat prakarya, mendengarkan cerita, atau memutar film Islami yang dipandu oleh para ibu-ibu pengajian. Selama pandemi, program pun masih berjalan hingga sekarang dan Musa selalu bersemangat mengikuti pertemuan daringnya, bahkan mengerjakan tugas-tugasnya hingga pernah beberapa kali mendapat penghargaan karya terbaik.
  • TPA Masjid Nusantara Akihabara
    Dari komunitas TPA yang punya pertemuan di masjid beneran setiap Sabtu-nya ini, Musa punya kesan yang mendalam tentang masjid Indonesia. Ia mengingat lantunan selawat dan doa yang dikumandangkan dari masjid milik orang Indonesia ini. Di TPA ini juga Musa pertama kalinya kenalan sama metode ummi dalam mengaji.
  • Weekend School Program YUAI Tokyo
    Sekolah YUAI mulai tahun lalu akhirnya menyulap kelas matrikulasi untuk calon siswa menjadi weekend school yang bisa diikuti siapa pun. Ketrampilan Musa berbahasa Inggris, yang mulai terkikis sejak masuk TK Jepang, terpakai lagi selama mengikuti program ini. Di usia yang semakin paham tentang perbedaan dirinya dengan teman-teman Jepang-nya, aku merasakan kehadiran teman-teman seusianya yang sama-sama “beda” dalam lingkungan sekolah di YUAI membuat Musa jadi lebih aware ketika kami berbincang tentang jati dirinya sebagai Muslim.
  • After School Program Asy-Syahid Bogor
    Yang terakhir ini juga buaaanyak banget yang nanyain tiap di-share di Instagram Story. Awalnya aku sedang mencari kompensasi jika Musa harus SD di sini agar tetap dapat mapel agama, bahasa Indonesia, dan lain-lainnya yang sesuai kurikulum Indonesia. Syukurlah aku dapat informasi tentang pendaftaran siswa angkatan pertama program ini dan langsung cocok melihat kepseknya pernah jadi diaspora di Jepang juga. Meskipun daring, ternyata Musa sama sekali enggak bosan menjalaninya. Selama 3x dalam seminggu, ia menghabiskan sorenya dengan belajar bersama guru di Indonesia.

Semua usaha ini semoga membuat anak-anak kami tidak merasa sendiri menjadi minoritas! Aamiin ya Allah.

One thought on “Meretas Perasaan Minoritas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s