Being A Mother Actually Be Like This


Today is my third Mother’s Day (based on US/Japan calendar, in Indonesia: December 22). Since my only kid currently was born in Michigan, I follow the US version. Hehe. I had my first Mother’s Day at the third day people began recognizing me as “Mom”. The medical staffs who helped me giving birth in the hospital used that term. It was so magical for me!!! I was always a girl who had no interest to kids beforehand, even, a kind of person who preferred to stay away from those noisy, annoying, silly little creatures… ignoring all their cuteness and innocence. If my little sister loves to offer herself as a caregiver for our nephews or nieces in the family gathering, not so with me. If some friends of mine, in my perspective, know very well how to soothe a crying baby, to cope with toddler’s tantrum, or to deal with stubborn teenager when we’re on duty in the kids corner (yeah! although I’m not a kids lover still I was involved in this division for several events.. huh), I had no idea how to do it. If most of my female relatives of the same age is able to guess how old a kid is, I just didn’t get the difference between 1-year kid and 2-years kid. Bahaha 😆

Back to the topic..

Alhamdulillah now I have a son and my life totally changed. I never expected that having kid could be as this much. No body tells me how big the impact is, which then I figured out, it’s like your whole life never be the same anymore, as though the transformation from being single to a married woman is nothing, as if all memories I remember about my parents raising me was nothing but their normal life. Frankly, with the kid presents in my life, I have to understand (and accept) that my life is not mine anymore. I acknowledge unconditional love to my son that I never have with someone else before. That’s why, in honor of Mother’s Day and accidentally I’ve been thinking to write this too for a long time, I’d like to share my personal impression about being a mother. Of course I have a bit experience in motherhood, so the points told here aren’t rules, but the main thing is I won’t be that one who hides the facts to the moms-wanna-be, to expose what it’s actually like to be a mother.. at least in the first five years of the kid’s life 😀

“Takgendong ke mana-mana”

Continue reading

Musa’s Weaning Journey


Day 3 fully weaning #musaromas has ended and unbelievable he neither forced me to give milk nor cried at all today!!! Never in our days before he turned two years I had more than 24-hours without breastfeeding him unless (if any) he acted like crazy only for getting a little drops of breastmilk. Now am struggling to overcome the engorgement while hoping that the supply would decrease soon. #weaningwithlove (curcolan di bawah.. 😬)

Ngomongin soal sapih-menyapih, kami (ini proses mama, Musa, dan juga papa) punya perjalanan yang lumayan panjang hingga hari ini. Mulai dari desakan pediatrician (dsa) saat Musa usia 9 bulan untuk menghilangkan night feeding (nenen di malam hari), sleep training yang diulang beberapa kali periode tapi belum sesuai target (si bocah sudah bisa tidur sendiri, tapi masih suka kebangun malam dan minta nenen), sampai perubahan sikap Musa yang semakin menjadi minta nenen justru menjelang usia dua tahunnya (tadinya hanya di seputar masa tidur tiba-tiba di siang bolong lagi main-main pun sering minta). Kalo melihat betapa garis kerasnya dulu doi dengan ASI (nggak minum sufor dan nggak terlalu suka susu sapi), memang saya sudah kebayang lamanya proses ini. 

Begitu pulang dari check up 9 bulan di mana kami di-scam sama dokter itulah pertama kali nyoba buat nidurin Musa, termasuk sesi ngelindur tengah malam, tanpa nenen. Teorinya, jangan sampai bayi mengasosiasikan suasana tidur dengan ASI, dan seperti apa dia mengawali tidurnya maka begitulah dia akan berharap hal yang sama ketika terbangun malam. Kalo bobonya mimik ASI dulu, apalagi tertidur saat sedang asyik, ya pas bangun malam itulah yang dicari, begitu pun sebaliknya. Maka baiknya nggak usah dikasih sama sekali. Proses melatih doi tidur seperti ini terjadi beberapa kali di Amrik, di rentang usia 9-18 bulan, tapi nggak ada yang berhasil lanjut. Cuma sekian hari jalan, terus balik lagi ke kebiasaan lama. Coba lagi, gagal lagi. Entah karena sakit lah, traveling lah, emaknya tepar lah, atau bapaknya ngantuk nggak mau diganggu lah (paling sering.. haha).

“Dia udah terlanjur hafal ritual tidur di tempat ini. Butuh suasana baru buat berubah mungkin,” kata suami someday. Kebetulan takdir membawa kami pindah ke Jepang. Satu bulan pertama di hotel sempat dilatih lagi, tapi dasar Musa kalo protes suaranya ampun cetar membahana dan tahan nangis lama jadi berhenti karena khawatir ganggu tetangga. Tahu sendiri lah orang Jepang kaya apa sensitifnya.. Baru setelah settled di apartemen, usia Musa pas 1,5 tahun, dan saat suami ditugaskan ke LN (biar nggak ganggu), saya jalanin lagi sleep training ke Musa dan… kali ini berhasil!

Terhitung sejak itu normalnya Musa bisa mengawali tidur malam tanpa nenen, tapi masih drama banget (aka nangis heboh sampai mamanya nyerah) ketika terbangun malam dan bobo siang. Nah, gara-gara traveling lama sempat doi kolokan lagi sebelum tidur hingga papanya nemuin cara buat nidurin di malam hari: “Tunggu Mama shalat”. Sekitar dua bulanan tiap saya shalat Isya, Musa yang biasanya sudah ngantuk berat menunggu mama selesai sambil tiduran, terus lama-lama ketiduran deh. Kalo doi belum tidur saya shalat lagi dan lagi.. sunnah kek, QL kek.. pokoknya sampai doi tak sanggup lagi membuka matanya, alih-alih mau meraung minta susu. Hahaha. Ya tapi gitu, sampai hari terakhir sebelum dua tahun baru ilang nenen sebelum bobo aja. Waktu-waktu lain sih doi masih anak ASI banget.. kebangun tidur minta, kecewa atau jatuh minta, mau bobo siang (di mana nggak ada adegan shalat) bingung juga cari-cari. Minum susu sapi pun nggak efek, tetap cari puting, wong pengen nyamannya doang kok aslinya.

Kondisi seperti itu masih berjalan hingga ultah keduanya, bahkan seperti yang saya singgung di atas, Musa jadi lebih demanding selepas Februari. Minta susu di luar waktu tidur udah kaya bayi aja. Saya sampai heran.. ini anak kok seolah kaya sengaja muas-muasin sebelum saying good bye 😅. Saya yang sebetulnya udah lelah dan risih banget akhirnya jadi mellow juga. Meski sakit dan pengen udahaaaan aja, kalo lihat peaceful-nya muka si kecil ya gemes juga. Wkwk.. tahvava. Jadi, baru kemarin-kemarin tuh saya udah hopeless nyangkanya nggak akan bisa langsung bye-bye nih kayanya pas dua tahun. Musa kalo lagi minta tapi ditolak itu reaksinya.. aduhai, celaka! Tangisannya kaya serigala dan kadang saya juga dibuat babak belur olehnya. Ternyata eeeh ternyata.. begitu ketok palu dok! Hari-H ultah dua tahun sampai hari ketiga ini bisa juga doi meninggalkan benda kesayangannya itu.

Faktor umur mungkin ngaruh juga ke keberhasilan. Makin gede makin bisa dipahamkan. Memang saya sounding-nya cukup lama juga ke dia dengan mengulang-ulang kalimat seperti: “Musa is a big boy now”; “Big boy drinks milk from cup”; “Only baby drinking mama’s milk”; “You have to say bye-bye to mama’s milk soon” dan “No breastmilk anymore” (sorry nih roaming, emang kalo sama anak saya ngomongnya pake bahasa bule.. wkwk). Yah, meski demikian sebenarnya doi selama ini tetap nggak mau dengar apa pun kalo lagi pengen nenen. Seringkali hanya melambaikan tangan pertanda “bye-bye” tapi mulutnya tetap nyot-nyot.. LOL.

• 

Sebagai closing, throwback dikit tentang strategi kecil yang ternyata sepertinya ngaruh. Ceritanya, karena sudah putus asa dan sedari awal saya nggak mau pakai yang seram-seram atau pahit-pahitan di PD, saya minta ide suami. Ohya pengennya sih dulu nyetop dengan cara natural, yakni ngurangin produksi ASI, tapi itu sama aja bohong kalo demand dari anaknya masih ada. Mau maksa tubuh buat stop supply gimana caranya? Akhirnya suami menyarankan agar ditutup dengan stiker aja. Pergilah saya ke Bic Camera (toko elektronik) beli kertas label ukuran A4, kemudian kertas itu digunting bulat sesuai ukuran yang dibutuhkan dan demi menambah efek dramatis, saya gambarin deh stikernya dengan ekspresi “scary”. Teringat ada teteh yang gambarin PD-nya dengan “kao-san” saat menyapih putri sulungya. Hihihi. Trik ini sukses bikin Musa bingung nggak dapat akses ke ASI di pagi hari pertama penyapihan, lalu di hari kedua juga begitu pagi-pagi (bangun tidur). Hari ketiga ini, doi sama sekali nggak maksa minta, hanya 2-3 kali tunjuk-tunjuk tapi Mama cukup ingatkan dan dia pun diam, nggak nangis atau protes, dan minum fresh milk banyak sekali. Alhamdulillah.. semoga lanjut terus sampai lulus weaning journey 😉

Homemade Teething Biscuit


Showing up in my FB #memoryoftheday today and would like to share it here. This was my favorite #babybiscuit recipe so far and well accepted by the little guy. • • #biskuitbayi di resep ini teksturnya keras di luar tapi melting di mulut.. sesuai judulnya memang untuk #teething, jadi harus yang nggak gampang hancur saat digigit-gigit. Hihihi.. • • #recipega #teethingbiscuit #biscuitrecipe #babyfood #fingerfood Posted by @egadioniputri via Instagram

Mini Mile Crepes


Mini heart-shaped #milecrepes (because I don’t have normal fry pan 😝). Not a #crepes lover and never made any #crepe at home, but this was nice simple #treat to give a try. #recipega • • #milecrepe recipe: search on @allrecipes titled “Basic Crepes” –> I used a half of ingredients in the recipe to make these mini crepes (around 16-20 layers, some pieces had been eaten before pictured) • filling –> mix these two #cream: – 100 ml #heavycream whipped with high-speed mixer without sugar – homemade #custardcream–> a half portion of recipe below 👇🏽 [ingredients] 1 egg yolk 1 tbsp all purpose flour 2 tbsp sugar 100 ml fresh milk (warm) 1 tbsp butter (melted) [method] (1) stir flour with sugar (2) add egg and mix well (3) add the warmed milk (4) microwave for 1 minute in 600 W (5) shift the batter using strainer (6) add butter (7) repeat step 4, then stir well • • #homecooking #matcha #ミルクレープ #抹茶ミルクレープ Posted by @egadioniputri via Instagram

Edible Flowers Jelly


#Spring is still on the way. After #flowerbread, here is #recipega’s yesterday experiment with #edibleflowers – my first time ever to recognize it’s existing in the vegetable section of some grocery stores. I divided one packs of plain #agaragar into two molds for the transparent layer with flowers and #berries, then put different mixture for the second layer to compare flowers visibility: • • BIG mold (transparent-white as suggested by many recipes out there): egg yolk + sugar + milk + water + cream + katen powder • • SMALL mold (transparent-red): instant leci flavor jelly #Nutrijell The result showed pure transparent jelly like in the small mold couldn’t atand the flowers out, while solid white color from the #milkcustard in the big mold made flowers more prominent. • • #エディブルフラワー #手作りお菓子 #お菓子 #confectionary #jelly #sweets #homecooking #cookingmama Posted by @egadioniputri via Instagram