Photo at September 19, 2019 at 03:03PM


View this post on Instagram

Sakit apa Musa? Pertanyaan terbanyak buat mama dua hari ini. Cerita dulu ya.. • Hari ini ultah sekolahnya, tapi #musaromas nggak bisa ikut memperingati karena masih di RS. Ini fotonya waktu diulangtahunin ke-4 oleh warga sekolah Mei lalu. Bulan itu cuma masuk sehari itu aja pas kebetulan ada tanjoubikai (#誕生日会 – di mana warga sekolah berkumpul di hall tiap bulannya dan siswa yg ultah bulan itu naik ke panggung diselamati, dikasih hadiah berupa prakarya guru-gurunya, dinyanyiin, dll. ), terus sisanya tiga minggu doi bolos krn sakit macem-macem, tapi pada akhirnya malah penyakit yg tak disangka-sangka membuatnya opname. • Setelah pencarian yg cukup panjang hingga seluruh prosedur diagnosis dijalankan, saat itu dokter menyimpulkan ada Meckel’s diverticulum (メッケール憩室) di ususnya yg bikin doi waktu itu sakit perut bukan kepalang sampai dilarikan ke RS besar (#成育病院 aka @ncchd.go.jp). Kondisi tsb bawaan lahir dan kok ya kebetulan meletusnya kejadian itu di saat doi udah sakit bertubi-tubi sebelumnya. Disarankan operasi untuk mengangkat jaringan yg tersisa, tapi belum diputuskan waktunya hingga kini. Perlu komitmen waktu nunggu bocah 10 hari selama masa operasi dan recovery-nya yg mana papa harus cuti dan mama harus cari bantuan utk jaga adik. • Selang 4 bulan setelah opname pertama itu, Selasa pagi lalu Musa kami bawa ke ER lagi krn semalaman nafasnya berisik dan setelah 4x nebulizing di rumah tak kunjung membaik. Diobservasi sampai siang, keputusan dokter harus dirawat minimal 3 hari biar dapat masukan obat yg cukup utk membuka jalan napasnya. Kali ini, kami lebih bisa nerima krn emang asma adalah kondisi yg selama ini doi punya sejak sekitar usia 2 tahun. Setiap ganti musim, kelar taifu, perubahan cuaca yg ekstrim, lalu muncul batuk atau pilek, pasti langsung inhalation (吸入: kyuunyuu). • Dulu belum punya alatnya repot bgt, harus bolak-balik dokter cuma buat sedot ingus sama diuapin. Adiknya pun diduga punya penyakit yg sama. Kata dokter, “namanya jg saudara sekandung, gimana lagi”. Jadi kami harus tegar.. se-Tegar Rosa 🌹😄 Next step, mungkin akan cari dokter alergi biar mereka terpantau terus nafasnya dan bisa meminimalisir pemicunya. Yosh, ganbarimashou! 👦🏻 👶🏻

A post shared by Ega Dioni Putri (@egadioniputri) on

Advertisements

When in Derawan Paradise


Derawan Islands is part of Berau regency in the eastern of Borneo. We went to two of the islands, Derawan and Maratua, while visiting our family in Balikpapan. I can’t tell you enough about the beauty, but let me pick the most thrilling story when we were trapped in Maratua Island and couldn’t go back to our hotel in Derawan Island due to high tidal wave and strong wind following thunderstorm at the night beforehand.

Family portrait in Maratua

Family portrait in the paradise called “Maratua”, the Maldives of Indonesia

First info about the islands came from Aisar’s big brother we visited who has been there for twice. Until D-1 before departing, the guide and travel package was not decided yet, but finally we got a deal price for full trip boat and meals. Unfortunately, we couldn’t cancel the hotels we booked via app long time ago even though they actually offered much higher price than the travel. So, it’s better to get prepared from the beginning by finding trusted travel guide before you come because the service starts since in the airport (ex: Kalimarau airport in Berau.

Jadi, tips kalau mau ke pulau-pulau gini: JANGAN NGETENG, deh! Bisanya sih bisa, tapi resikonya tinggi dan buang waktu.

Kenapa buang waktu? karena begitu tiba di bandara, kita butuh naik mobil sekitar 2-3 jam menuju ke pelabuhan Tanjung Batu. Nah, itu kalo misalnya nggak pakai paketan dan nembak langsung, belum tentu ada mobil rentalan tersedia. Harus nunggu, deh. Kalo pun ada yang datang, belum tentu juga mobilnya bisa ditumpangin karena bisa jadi orang lain udah ada yang booking via online. Lalu, begitu tiba di pelabuhan, kalo kita ambil paket, akan ada speed boat yang sudah menunggu. Sesampai di pulaunya, juga sudah ada staf hotel yang akan menyambut. Mereka saling berkoordinasi terkait waktu kedatangan dan keberangkatan pelanggan. Makan siang atau malamnya pun sudah jelas di mana dan kita nggak perlu bayar apa-apa lagi. Terkait makan, bisa di warung atau catering, tergantung situasi kondisi dan kebijakan masing-masing agen. Kami hanya makan sekali saat dinner di pulau, kemudian keesokan harinya dapat bento (dikotakin tupperware) karena seharian keluar naik boat ke pulau-pulau sekitar Derawan, yang akhirnya kami terjebak di Maratua (baca ceritanya di bawah).

Contoh beresikonya ya kalo misalnya ada kejadian tak disangka seperti kami, andaikan ngeteng mungkin kita nggak akan diperhatikan atau diurusin segitunya. Waktu terdampar di Maratua, kami ketemu satu keluarga yang dadakan gitu ke Derawan-nya. Dari Samarinda, mereka nyarter mobil beserta sopirnya. Ternyata sopirnya nggak paham jalan dan kondisi mobilnya pun jelek, pakai mogok dan harus bermalam segala di tengah perjalanan karena sopirnya nggak kuat. Wkwk. Terus pas udah sampai di pulaunya, mereka pun sepertinya diarahkan langsung ke penginapan terdekat dari pelabuhan yang tampaknya sudah marked up juga harganya. Selain itu, boat mereka tentu saja juga ‘sedapatnya’ yang ada di pelabuhan. Kalo ditotal harga sewa boat sehari jatuhnya lebih mahal daripada kalo kita ambil paketan. Sama seperti harga hotel yang sudah disinggung di atas, kami dapat harga 2x lipat di aplikasi Trav*lok* daripada tarif hotel yang ditawarkan dalam paket, padahal fasilitasnya lebih bagus yang di paket T___T.

Selanjutnya, biarlah posting-an Instagram berikut yang melengkapi cerita kami :))

Continue reading

No Dopping No Secret


The boys were enjoying sea breeze in the hotel’s veranda at Derawan Island

Taken from Ega’s  Instagram

Brotherhood between toddler and baby is the cutest 💕👦🏻👶🏻 #musaromas #noahromas. These are some of their memories in Indonesia last month. Many people asked me how to keep them at a good condition while travelling almost every day during 25 days trip. I said: we’re just lucky! If they’re sick they’re just sick too. No dopping no secret, seriously 🤪. Continue reading

GW 2019 Escape to Lovely Double-A


“Where to go this GW (Golden Week)” is kind of normal question to the people in Japan as they entered the new year, no exception us, no matter with a baby or not. Holiday is holiday after all, which we won’t take it for granted 😛

Around Feb, we started discussion how we’re gonna spend this year’s GW. For the first time in the history, GW holiday will be the longest up to 10 days in total including weekends. I suggested to go to the new places, but Aisar preferred to revisit nostalgic areas such as Okinawa with kids this time. At the end, the fate stood by me. Aisar got the suggestion of cheap flights to Akita. It’s matched to my desire for Aomori, in which we can ride trains from Akita to reach.

Finally, there we went!

Akita Part: rice field tour

View this post on Instagram

Happy new year #令和 for Japan from Akita where I had one of the best trips in my whole life! People, foods, and experience here beyond my expectation. It’s such another perfect timing to start the change! Because why? at this year GW holiday is extended into 10 consecutive days for the first time and right afterward Muslims will enter the holy month #Ramadan 🙂 Dari dulu pengen ke utara pulau Honshu (Tohoku #東北 area disebutnya) dan alhamdulillah kali ini kesampaian bukan krn emang niat ke sini melainkan krn saat cari tiket Golden Week adanya yg murah ke Akita 🤣 Di sini cuma sehari aja, abis itu langsung ke Aomori. Liputan lengkap ada di IGS seperti biasahhh. … Keterangan foto: (1) Photo booth di museumnya desa Oga yg merupakan hasil reklamasi danau (2) (3) (4) Foto-foto di tempat pembibitan padi dan sawah milik volunteer yg memandu kami. Untuk bisa blusukan ke sawah-sawah ini nggak bisa sendiri yaa.. tapi harus request guide “orang dalem” kaya gitu, yg kenal sama petani di sana atau petani itu sendiri, jadi bisa keliling sambil mendengar penjelasan bagaimana beras Jepang yg uenakkk itu ditanam di dalam rumah kaca (vinyl house), dipindahkan ke sawah, dipanen sampai disimpan di カントリー (lumbung padi zaman now yg bentuknya silinder super tinggi dilengkapi elevator) (5) Nanohana road yg kaya negeri dongeng tapi sayang ga bisa foto-foto di situ krn bus tak berhenti. Nanohana (canola) adalah nama bunga kuning yg nemenin pepohonan sakura. (6) (7) (8) Di pasar tradisional kota Akita (9) (10) Perjalanan bus dr bandara dan di pesawat

A post shared by Ega Dioni Putri (@egadioniputri) on

aomori part: apple frenzy

Hubby Comes Back from Biztrip, Yay or Nay?


Posted from egadioniputri‘s Instagram

A reflection while waiting for hubby’s return from a series of business trips within and outside Japan… almost four years being parents and now with two kids, we still have different styles in parenting, so sometimes I face a dilemma:

❤️ when hubby is home, I have helper, but have to deal with things I’m disagree with.. (ex: let the toddler sip coffee) 😅

❤️ when hubby is away, I have to struggle alone, but things get easier bcs I’m the only ruler.. 😁

Adakah yang ngerasain hal sama? 😆

Bentar lagi kangmas pulang dari biztrip-nya dan ini bikin saya mikir, wah.. bakal rame lagi nih rumah dengan rengekan manja Musa minta ini itu (baca: yang Mama biasanya nggak bolehin, tapi masih dibolehin sama papanya, seperti nyeruput kopi atau nonton yutub pake hape 🙄). Si abang kan nggak berani nangis-nangis ngeyel minta sesuatu ke Mama. Kalo Mama bilang “No” yo uwis.. dia pasrah. Kalo Papanya? beuh, bikin emak geregeten krn ‘kalahan’ sama anaknye. Wkwk..

Kami memang berbeda batas soal disiplin, tapi yaaa kalo tak ada kangmas, aku pun tak kuasa bila harus mengurus dua bocah kicik ini sendiri. Buktinya, tiap kali ditinggal, pasca punya bayi ini, badan selalu tepar, kan? (penggemar IG Stories aku pasti tau..) demam yang dulu jaraaang banget terjadi, kini jadi langganan 😢

That’s why.. I told myself, sudahlah jangan mendustakan nikmat Allah. Bagaimana pun berbedanya fathering ala bojo VS mothering ala aku, asal bukan hal yang prinsipil—yang memang harus satu visi—biarlah nggak perlu dipikirin. Lebih baik fokus ke bersyukur karena punya suami yang masih ringan tangan bantu ngurus anak, ngasih kita me-time sesekali dengan jagain anak-anak, bawain segala macam saat main keluar, dsb.

Kehadiran sosok dua ortu yang benar-benar memberi waktunya untuk anak tetap lebih baik ketimbang single parent, mau sehebat apa pun ibunya. Lower your ego.. and enjoy ups downs parenting together with the DH while you can 😉

Terkait renungan ini jadi teringat satu teori parenting (halah):

Kita bisa aja beda gaya, persepsi, atau standar dalam parenting, tapi jangan pernah jelekin pasangan di depan anak/bikin anak benci sama salah satu ortunya.

Nahhh.. 🙈

#parentslife #marriagegoals