Postpartum Life in A Japan’s Hospital


I have shared the birth story of our second son, Noah, in this post. I’m blessed we was born at the fastest pace possible. I spent much shorter labor time than my firstborn birth (~1 hour since the first contraction!). If I only had 36 hours hospital life after my first delivery, here even though praise to God everything was normal, a mom has to stay at the hospital up to a week based on Japanese postpartum care standard. Of course, both has pros and cons, but I think now I can say I love Japan’s way in taking care of me and baby either physically or mentally during the stay.

Cerita kelahiran Noah sudah pernah saya share di hari-H persalinan. Kok sempat? Iya, soalnya habis melahirkan dan dipindahkan ke ruang perawatan itu saya punya banyak waktu luang selama bayi masih dikumpulkan di ruang shinseiji (新生児 = newborn). Bukan karena Noah baru lahir, tapi di Ebara (nama RS tempat Noah lahir) semua bayi selama masa rawat inap pasca lahiran itu setiap paginya memang harus diserahkan untuk pemeriksaan oleh dokter anak dan staf terkait lainnya.

Di sini, saya tambahkan kisah suka-duka selama tinggal enam hari di rumah sakit sesuai standar persalinan di Jepang. Semoga sedikit banyak bisa ngasih gambaran buat para bumil di Jepang yang lagi dag-dig-dug menyongsong yotebi (予定日 = due date atau HPL  alias Hari Perkiraan Lahir disebutnya kalo di Indonesia). Pengalaman yang saya tulis ini berdasarkan alur kelahiran normal via vagina, ya. Ada sedikit yang saya tahu tentang kelahiran melalui operasi sesar, nanti saya ceritakan, tapi di Jepang sini kecuali ada indikasi medis yang mengharuskan, opsi cesarean section tidak bisa dipilih oleh ibu hamil.

Morning RoutinES

From undefined hour (basically mom can hand her baby anytime to the nurse when she needs it) to around 9 AM, it was time for baby to get checked by nurses, midwives, and pediatrician. Based on my experience and by seeing the fellows, that baby-free time allows moms to have descent me-time to eat her breakfast, make a call, walk out of ward, even take a bath or sleep.

after delivery: moved to postpartum room

Setelah bayi lahir menjelang pukul 4 pagi itu, saya segera dipandu untuk mengeluarkan plasenta, dijahit sambil jerit sesekali , dan diobservasi sambil IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Bertahan di ruang lahiran (分娩室 / bumbenshitsu: delivery room) sampai pukul 6.00, lalu dipindahkan ke ruang postpartum. Di ruang itu, keluarga sekali pun nggak boleh nemenin ibu bayi selain di jam besuk yang dimulai pukul 7 pagi hingga 9 malam. Jadi, setelah masuk sebentar ke ruang persalinan melihat anak barunya dan mengantarku ke ruang perawatan, suami langsung pulang dan jemput sang abang yang saat itu dititipkan di rumah teh Nelly, tetangga kami yang rumahnya berjarak 3 km dari RS (hampir sama kaya rumah kami ke RS).

Ohya, perihal titip menitip anak saat lahiran ini sudah dikomunikasikan ke mereka sekeluarga jauh hari sebelumnya, jadi ketika harus ngontak mereka di jam-jam tidur, kami tak merasa segan. Realitanya tetap tergantung rezeki kita 😛 Dalam kasus kami, suami nggak rezeki nonton proses persalinan karena tidak berhasil membangunkan tetangga terkait via LINE sehingga terpaksa jagain anaknya dulu, sementara saya keburu lahiran. Wkwkwk Grinning Face With Sweat

Begitu dipindahkan ke ruang perawatan yang sudah terisi tiga pasien lain, saya dapat segepok kertas berisi berbagai informasi seperti:

  • catatan junyuu (授乳:breastfeeding) bayi –> buat nulis jam-jam bayi menyusu; apakah bayi minum bonyuu alias ASI langsung (母乳: mom’s milk), ASIP (搾乳: pumped mom’s milk), atau sufor (ミルク: milk)
  • catatan pertumbuhan bayi –> tabel perubahan berat badan bayi sebelum dan setelah menyusu dalam gram sehingga dari selisihnya kita tahu berapa naiknya per periode tertentu (bebas mau nimbang kapan aja, nggak dibatasi jam dan waktunya)
  • kondisi ideal bayi dari hari ke hari –> semacam panduan berapa kali harusnya bayi pipis dan pup di hari pertama, kedua, ketiga, dst.
  • gambaran tentang agenda selama tinggal di RS –> penjelasan tentang rutinitas per harinya, misalnya pagi hari itu harus nulis nama di jadwal booking kamar mandi, lalu misalnya di hari kelima adalah jadwal keluar RS jadi harus persiapan, dan sebangsanya
  • tata krama selama jadi pasien –> aturan hidup bertetangga, menggunakan fasilitas, makan dan minum, besuk oleh keluarga/teman, dan lain-lain

Karena nggak ada bayi merah aja baca kanji itu butuh effort gede bagi diriku, akhirnya kertas yang sempat kebaca cuma yang pertama aja gara-gara emang harus diisi. LOL

BREAKFAST TIME = Baby GOES for EXAMINATION

Berhubung saya masuk RS dadakan cuma sejam sebelum melahirkan, dapur RS belum siap menyediakan makan pagi yang sesuai dengan standar halal request kami, jadi mereka minta kami menyediakan makanan sendiri untuk sarapan. Resiko terjadinya kondisi demikian ini nggak dikasih tahu sebelumnya dan juga nggak terbayang dalam perhitungan kami. Untungnya suami sempat beliin roti tawar dan selai sachet-an di mini market RS yang diniatkan untuk ‘cemilan’ habis lahiran ajaa, jadi selama enam jam saya makan itu mulu sampai tiba waktunya makan siang. Lavvaaar, bo, abis kerja bakti mbrojolin bocah Rolling on the Floor Laughing.

Sebenarnya waktu menyiapkan hospital bag udah ada rencana nyemplungin makanan kecil-kecilan semacam potato chips atau biskuit, tapi ternyata terlewat dan kenyataannya tetap aja pengen makan makanan berat semacam nasi di saat-saat seperti itu. Harusnya packing nasi instan dan ikan kaleng juga, yah Grinning Face With Big Eyes. Waktu kelahiran Musa saya ingat malah terlalu semangat masukin segala macam makanan dari supermarket dan itu pun masih dapat sarapan halal friendly.

Seperti yang disinggung di awal tulisan, di pagi hari jadwalnya bayi diantarkan ke ruang bayi untuk diperiksa dan diganti bajunya. Pada saat itu, sarapan diantarkan juga ke pasien (sekitar pukul 7.30), jadi para ibu bisa sarapan dengan tenang dan punya waktu 1-2 jam me time. Semakin cepat bayi dititipkan, semakin lama pula emak bisa ongkang-ongkang leyeh-leyeh. Rekor paling lama saya naruh Noah itu adalah dari jam 5 sampai 9 pagi. Udah batas maksimal tidak menyusui itu. Huehehe.. kadang kala pas ibu udah siap mau ngambil bayi, pemeriksaannya belum beres. Tergantung antriannya. Bayi baru lahir yang barengan sama Noah dirawat saat itu selusin lebih ada kali, jadi lumayan ramai. Tegur sapa antar ibu biasanya terjadi di tempat nitip bayi itu, atau ruangan menyusui dan saat lalu lalang di koridor RS Face With Tears of Joy.

MOM CHECK-UP

Selain bayinya, ibu juga diperiksa di pagi hari selama bayi dititipkan. Kira-kira dalam 24 jam ada sekitar tiga kali pemeriksaan oleh bidan dan cek suhu tubuh mandiri setiap pukul 11.00. Apa aja yang diperiksa?

  • darah nifas (出血 / shuuketsu: bleeding) –> perut ditekan-tekan, bagian bawah dilihat
  • ASI (母乳 / bonyuu: breastmilk) –> PD dilihat dan diperas sampai ASI keluar
  • tekanan darah (血圧 / ketsuatsu: blood pressure)
  • ditanya apakah udah mandi hari itu
  • ditanya ada yg sakit nggak, kalo ada apakah butuh pain killer (痛み止め / itamitome)

Demi kebahagiaan sebagai busui, saya beberapa kali minta pil pain killer agar kontraksi pasca lahiran (dalam rangka menyusutnya rahim ke bentuk semula) yang menyertai proses menyusui tidak terlalu terasa. Pengalaman saya, cramping pasca lahiran anak kedua ini lebih ringan daripada anak pertama. Ya iyalah, rahimnya udah pinter stretching.. hihi, gimana yang punya anak sampe tujuh kali ya? bukan cuma rahim, melainkan juga jalan lahirnya udah elastis kali :))

BUSY DAYS

When the baby is returned to mom, mom has to manage breastfeeding schedule while following the hospital’s agenda. As short as my experience, I barely could nap with my baby during the day because many kind of medical staffs want to see me. It could be…

  • the wives checking mom’s health as mentioned above
  • nutritionist asking me about my foods such as are you OK with our menus? any request?
  • pediatrician explaining about vaccination
  • counselor offering me consultation about postpartum depression
  • nurses giving moms tutorial about baby care
    etc.

Japanese way in setting after-birth programs seem on purpose to make sure that postpartum mom is ready to carry a new duty as she discarded from hospital. Not only physics, they also make sure that mom’s mental health is fine. Pro sides for me, I didn’t need to cook (hospital’s foods are besttt) and worry to hand over the baby. Cons sides may be in limited access to the world outside hospital.

 

Bathing tutorial (ofuro for baby)

Advertisements

Photo at June 11, 2019 at 06:05PM


View this post on Instagram

Anak umur empat tahun, mulai mengerti konsep waktu. #musaromas bikin jam #Doraemon ini saat Mama boleh datang melihatnya di kelas dan baru tahu kalo anak-anak sebelum pelajaran ditanya hari ini hari apa, tanggal berapa (termasuk perubahan bentuk katanya dalam bahasa Jepang, ex: 7日 nana nichi —> nanoka), dan apa cuaca saat itu. … Di rumah, selama ini kami pun udah sering bahas waktu kalo ada kesempatan, misalnya kapan ‘yasumi hi’ alias hari libur, dalam rangka apa, dan mau ngapain aja pas liburan. Wkwk 😄 … Ketika opname di RS menjelang Eid lalu dan menunggu kapan bisa makan, si abang terus memperhatikan jam dinding. Dalam kelemahan tubuhnya yg dipasangi kabel + jarum, dia masih bisa berkata, “Mama, the short needle is already at 4, Papa said I can eat at four, I want to eat melon pan”. Semacam itu. Jadi, tak boleh sembarangan pula kalo bicara atau janji terkait waktu. Jam berapa harus keluar rumah, jam berapa boleh bangun tidur, jam berapa akan kembali kalo kita ninggal.. semua musti terdefinisi. … Weekend kemarin saat kami bersiap pergi ke festival, terjadi pembicaraan sebagai berikut👇🏻 #sillymusa . 👦🏻: We’re going to matsuri (festival) at…? 👱‍♂️ (Papa @aisar_lr): At ten . menjelang jam 10, tiba-tiba Papanya ngendon di toilet . 👦🏻: Papa, hayaku (cepetan), it’s almost ten! 👱‍♂️: Ya, I’m still pooping 🙊 👦🏻: That’s okay, you can poop in the matsuri! There’s toilet in the matsuri. 👱‍♂️: Matsuri is outside, no toilet there 👦🏻: No, aru yo toilet.. (ada kok toilet di festival) 👱‍♂️: No. We’ll go at 11, okay? 👦🏻: Nooo it’s almost ten! You can continue pooping in the matsuri, there’s toilet in the matsuri. —> keukeuh 🤣🤣. … Meskipun seumur Musa belum paham bgt soal menit-menitan dan masih bingung selama apa itu ‘today’, sudah terjadikah itu ‘yesterday’ atau ‘tomorrow’, dan yang lebih kompleks macam ‘last year’, belajar waktu akan mengasah memori anak dan membantu kita mendisiplinkan mereka. … Mengajari waktu bisa dari hal sederhana dulu, contoh dari sensei di TK pagi itu, “Sekarang hari apa, hayo?” ziiing.. sekelas nggak ada yg jawab, begitu dilanjutkan “Ini hari untuk membawa pulang sepatu dan topi karena besoknya libur”. Langsung deh pada ngeh semua 🙂

A post shared by Ega Dioni Putri (@egadioniputri) on

Hubby Comes Back from Biztrip, Yay or Nay?


Posted from egadioniputri‘s Instagram

A reflection while waiting for hubby’s return from a series of business trips within and outside Japan… almost four years being parents and now with two kids, we still have different styles in parenting, so sometimes I face a dilemma:

❤️ when hubby is home, I have helper, but have to deal with things I’m disagree with.. (ex: let the toddler sip coffee) 😅

❤️ when hubby is away, I have to struggle alone, but things get easier bcs I’m the only ruler.. 😁

Adakah yang ngerasain hal sama? 😆

Bentar lagi kangmas pulang dari biztrip-nya dan ini bikin saya mikir, wah.. bakal rame lagi nih rumah dengan rengekan manja Musa minta ini itu (baca: yang Mama biasanya nggak bolehin, tapi masih dibolehin sama papanya, seperti nyeruput kopi atau nonton yutub pake hape 🙄). Si abang kan nggak berani nangis-nangis ngeyel minta sesuatu ke Mama. Kalo Mama bilang “No” yo uwis.. dia pasrah. Kalo Papanya? beuh, bikin emak geregeten krn ‘kalahan’ sama anaknye. Wkwk..

Kami memang berbeda batas soal disiplin, tapi yaaa kalo tak ada kangmas, aku pun tak kuasa bila harus mengurus dua bocah kicik ini sendiri. Buktinya, tiap kali ditinggal, pasca punya bayi ini, badan selalu tepar, kan? (penggemar IG Stories aku pasti tau..) demam yang dulu jaraaang banget terjadi, kini jadi langganan 😢

That’s why.. I told myself, sudahlah jangan mendustakan nikmat Allah. Bagaimana pun berbedanya fathering ala bojo VS mothering ala aku, asal bukan hal yang prinsipil—yang memang harus satu visi—biarlah nggak perlu dipikirin. Lebih baik fokus ke bersyukur karena punya suami yang masih ringan tangan bantu ngurus anak, ngasih kita me-time sesekali dengan jagain anak-anak, bawain segala macam saat main keluar, dsb.

Kehadiran sosok dua ortu yang benar-benar memberi waktunya untuk anak tetap lebih baik ketimbang single parent, mau sehebat apa pun ibunya. Lower your ego.. and enjoy ups downs parenting together with the DH while you can 😉

Terkait renungan ini jadi teringat satu teori parenting (halah):

Kita bisa aja beda gaya, persepsi, atau standar dalam parenting, tapi jangan pernah jelekin pasangan di depan anak/bikin anak benci sama salah satu ortunya.

Nahhh.. 🙈

#parentslife #marriagegoals

No Way for Baby Blues


Dear Baby Noah,

Thank you for coming to my arms and holding me back from a lot of negative responses when facing unpleasant situations. Yeah, even though I’m still cheating to feel miserable or resentful behind you sometimes.. I can make sure that I’m not having baby blues and totally BABY PINKS to you 💕💞💝

Three weeks with this tiny human somehow my emotions become more stable compared to the time when I had only a toddler. Probably, an innocent baby’s face soothes me magically or I care less about the things unrelated to the baby and home. Also, I never imagined that it’s so easy to move on and love another child as much as the firstborn.

Your heart will grow.. and there will be enough room within it for all your sweethearts –> TRUUU

This all reminds me to the postnatal mental health survey I filled during my stay in the hospital  which actually wasn’t good that made me invited to meet the nurses and counselors. Thanks God, I’m great instead! 😇 Continue reading

Birth Story of Baby Noah


Setelah salah ngitung kalo adik lahirnya lebih telat dari abang Musa*, ternyata adik membuktikan dia bisa mencetak rekor proses lahiran yang jauh lebih cepat tanpa membuat Mama sakit lebih lama daripada perjalanan kakaknya dulu.

*Yang betul: sama-sama lahir hari Jumat sebelum Subuh di H-3 dari HPL, tapi adik 1,5 jam lebih mundur jamnya dari jam lahir kakak

Hari Kamis, H-1 persalinan

Seharian Mama cuma ngalamin sekali kontraksi palsu dan itu pun nggak serius, padahal hari-hari sebelumnya kadang dapet yang lebih sakit. Lumayan lama adik PHP-in Mama dengan Braxton Hicks ini. Sejak usia kandungan 36 minggu. Agak merasa bersalah karena Mama memang minim usaha kali ini, kurang jalan-jalan, malas keluar karena dinginnya winter, dan makin deket HPL malah banyak duduk njahit bantalan kasur bayi.

Siang hari, Mama nitip dibeliin birthing ball. Dipake dua kali sorenya, bentar-bentar doang paling lima menitan aja goyang-goyang di situ. Menjelang jam 6 malam, flek (“bloody show”) yang ditunggu-tunggu keluar juga. Baru disitulah mulai yakin adik bentar lagi lahir.. tapi, sampai tidur tengah malam nggak ada kontraksi sama sekali. Continue reading