Kindergarten First Week


After seven first-days of school Mama accompanied him at class and gradually took steps to be away, today #musaromas hit the new milestone: attending class without Mama. 👏 Even though it’s short #summerschool (2.5 hours), but hearing news from sensei that he only cried when Papa left him as he dropped in the morning AND didn’t cry during the class while struggling the language barrier, I considered it as his big achievement. おめでとう、ムサくん!また頑張りましょう🙂 🎥 Click highlight “Youchien Life” on my profile to see Musa’s journey in #kindegarten . . 📷 Pic taken after school: Blessed to have fellow Indonesian as a classmate by chance 😉 これからもよろしくね、ナちゃん 🙏🏻 . . Di hari terakhir semester, sensei2 di kelas Musa ngajakin Mama ketemuan secara personal setelah sekolah usai. Sebagai anak baru yg gabung belakangan, tentu mereka butuh mengenal sosok siswa termuda kedua di TK ini (yg lebih muda dr Musa —> anak Jepang kelahiran Juli, masuknya jg bareng Musa), aplg Musa agak spesial: orang asing + nggak ngerti bhs Jepang pula. PR banget kan buat sensei-nya? Wkwk. • Obrolan dlm “interview” itu berkisar mulai dr teknis sekolah sampai kehidupan pribadi. Mereka cukup kepo dgn profil keluarga kami, kegemaran Musa (mainan, makanan, kegiatan, dsb.), siklus hidup Musa (tidurnya jam brp + brp lama, pagi2 ngapain, dsb., hingga rencana kedepannya di Jepang gmn. Berhubung daku orangnya terbuka, ya malah curcol macem2 dan makin banyak ditanya smp tiba pertanyaan terepik: “Kenapa milih sekolah di sini, padahal kan challenge-nya besar sekali?” eaaa bilang aja mau nyebut kami nekat 🤣 • Jawabannya jujur aja sih, kira2 kaya gini: (1) Jauh —> satu2nya pilihan sekolah Jpg terbaik di Ota-ku yg nggak terafiliasi ke agama yg nerima murid periode setelah April (2) Bhs Jepang —> international school pengajarnya banyak orang asing, beda kultur beda jg pembawannya meski udah lama di Jpg, kami ingin Musa belajar langsung dr natives Jpg yg serba tertib & teratur (3) Umur muda —> krn ngerasain pendidikan dini di Jpg adalah salah satu goal kami tinggal di sini, dan nggak tahu brp lama lagi akan tinggal di Jpg (atau Tokyo), scr visa bahkan sebelum Musa lulus TK udah harus cabut. GITU, Bu!!! 😄

A post shared by Ega Dioni Putri (@egadioniputri) on

Advertisements

Road to Kindergarten


[幼稚園に行くについて – Answering FAQ about #musaromas’ #roadtokindergarten: “Can we enter youchien after April? Yes, we can 😊 I’m gonna explain it at glance in Bahasa 🇮🇩 below] .. Beberapa hari ini dari Story banyakkk yg nanya “Kapan Musa mulai sekolah?” walaupun udah saya tulis scr implisit ‘next month’ atau ‘next week’ tetap pada bingung kayanya karena tahun ajaran baru di Jepang udah lewat, tapi kok ini malah masih persiapan.. makanya pada bilang “April tahun depan ya?” 😬 .. Cerita ini bermula dari sejak kami pindah ke Jepang dan Musa berusia 1,5 tahun lalu. Dengan alasan saya lagi cari part time job, kami iseng ikut daftar hoikuen (registered daycare di Jpg), dan tentu saja gagal, lha wong yang udah jelas-jelas mamanya kerja full time aja antriannya masih puanjaaang. Galau antara nanti saya dapat kerja tapi Musa belum dapat hoikuen, ditambah rasa males apply2 (ups..), niat melibatkan Musa dalam #pendidikanprasekolah di Jpg yg keren bgt itu pun terpaksa kami tunda dulu. .. Menjelang akhir tahun lalu baru Mama nyadar lagi target satu itu belum ada progress, pengen cobain daftar hoikuen lagi, jadi iseng update2 profil di online teaching, masukin lamaran part time ke tiga tempat, tapi tetap nggak terlalu niat kerjo sakjane.. dan itu nggak sesuai keilmuan saya semua 😭 Mulai ada yg kontak2, sempet ngerasain wawancara kerja di sini juga, tapi di tahun berikutnya (2018 ini) malah tawaran yg datang bukan dari itu semua. Hoikuen ga jadi didaftar, lanjut target toilet training biar bisa daftar TK begitu Musa tiga tahun. .. Setelah toilet training berhasil bulan April, dimulailah cari info TK yg masih buka registrasi setelah April. Ada dua TK di sekitar rumah. Si Papa kengaku (survei) TK yg terdekat, deadline Mei. Baru tau kemudian keduanya bukkyo youchien (Buddhist, punya kuil). Galau lah.. tertunda hingga Mei. Nemu Kugahara Youchien, yg ternyata TK Na~chan-nya teh @nelly_tri. Agak jauh, tapi kami mantap. Yasudah, sebulan setelah kengaku baru diputuskan daftar dan ikut interview. Alhamdulillah, hari itu juga dinyatakan diterima. Waktu masuk kami tentukan sendiri dan kami pilih bulan Juli agar Musa punya waktu adaptasi semester baru bulan 9 nanti. #begitulah 🙂

A post shared by Ega Dioni Putri (@egadioniputri) on

The next Monday (July 2) will be a big day for Musa. He’s going to begin the journey of being formal student in a Japanese kindergarten. As the newbie, he has to catch up his friends in the class who have already started their school three months ago. Musa couldn’t enter kinder at the same time like other kids once the new academy year nationally kicked off on April in Japan because he was still two years old. However, when a kid turned 3 years, it is possible to apply kinder after normal period as long as the school still has quotas and opens the recruitment. That’s what we did 🙂

Lebih lengkapnya tentang celoteh post Instagram yang saya share di atas akan dibahas di bawah. Ada beberapa hal yang perlu saya jelaskan tentang TK di Jepang.

Agak mengejutkan bagi saya bahwa di sini TK bisa dimulai dari usia tiga tahun. Cepet, ya? di Indonesia umur segitu masih playgroup, sedangkan di Amrik juga masih preschool. Lebih wow lagi kalo nyimak sebagian psikolog, salah satunya bu Elly Risman, menyarankan masuk sekolah baiknya dari umur lima, mengingat di usia 7 tahun lah otak mereka baru siap nerima pelajaran kognitif seperti membaca dan menulis.

Dulu, saya nggak kebayang masukin anak sekolah sedini itu, bahkan sempat terpikir jika kami berada di Indonesia mungkin saya akan pilih homeschooling melihat beban anak sekolah zaman now tidak seperti yang seharusnya. Namun, jujur aja, kalo kami dikasih kesempatan tinggal di negara maju selama masa pendidikan dasar anak, keinginan saya justru sebaliknya: sebisa mungkin anak bisa ikut sekolah. Beda soalnya pendekatan mereka sama negara kita. Di negara maju yg saya tahu seperti Jepang dan Amrik, anak balita nggak diajarin baca tulis, apalagi syarat “sudah bisa membaca” saat masuk SD, dan sekolahnya bisa dibilang isinya banyak main-main aja. Belajarnya sambil main. Mainnya seru-seru, serius, dan fasilitas memadai. Ala-ala Montessori gitu.. banyak program keluar sekolah dan bikin craft juga. Wah, senang lihatnya.. jadi boleh banget laaah masih kicik ikutan sekolah biar kereatif 😂

Balik lagi ke Jepang..

Continue reading

Pee Accidents Post Potty Training


Twice pee accidents during Ramadan after two months potty trained! 😫 The culprit is SWEET DRINKS every iftar time which make him has urge more frequently. 🥤🍧🍸🍹 . Duh duh duh.. pusing pala mama semalam #musaromas ngompol di kasur dan sebelumnya di masjid. Dua kali selama bulan #Ramadan2018 ini! padahal selama masa toilet training aja dia terhitung cuma pernah sekali ngompol di kasur saat tidur siang, lalu sekali saat di pagi hari dan itu pun dia baru bangun tapi telat ke toilet. Ini udah dua bulan bebas popok tiba-tiba ngompol-ngompol lagi 😥. . Kejadian semalam benar-benar tidak terprediksi karena nggak seperti di masjid Indonesia yang minuman bukanya enak-enak macem es teler, es campur, dkk., di masjid Kamata (mayoritas orang Bangladesh) dia cuma minum es sirup segelas ditambah separo pak jus apel dr aunty @sstefchan. . Sementara itu, kejadian di masjid Indonesia (20/6) emang karena dia khilaf minum es teler dua gelas besar.. enak, sih, yes 😂 Tahunya dia jadi sering minta pipis, tapi sampe akhirnya dia ngompol itu mama syok juga. Jeda pipis terakhir sampe pipis yang dia nggak bisa tahan itu cuma dua rakaat tarawih.. dan dia udah ngempet mau bilang karena mama lagi shalat. Begitu dia bilang “pee, pee!” mama langsung batalin shalat dan angkat ke toilet tapi sampe toilet nggak keluar, lihat ke belakang.. jeng jeng! Ternyata udah berceceran ngebentuk jejak bertitik-titik di lantai masjid tak berkarpet 😖 Ngepel lah mama.. 😪 . . Setelah kejadian itu, jujur mama sebenarnya udah berhati-hati mengawasi intake dia akan minuman manis yang sudah pasti keluar di menu #bukapuasa karena kalo melarang sama sekali percuma aja, namanya juga bocah. Buibu yang pernah bawa anaknya ke pengajian atau kumpul-kumpul pasti ngerti gimana “pasrahnya” anak susah makan makanan yang bener (baca: menu utama macem nasi + lauk) saat didepannya disuguhkan berbagai makanan dan minuman manis 😁 Nom nom nom.. jadi pelajaran juga buat saya biar tetap pakein dia pad kalo lagi ke masjid, cuma belum pernah diterapin dan alhamdulillah beberapa kali tarawih aman. . Tiga minggu berlalu sejak insiden ngompol di masjid, rupanya dia memilih melanjutkan mimpinya dan pipis di kasur semalam 😅

A post shared by Ega Dioni Putri (@egadioniputri) on

Happy Birthday, Yangti!


Longing for coming to this home in #Ramadan and Eid and spending sahoor or iftar with my mom, enjoying her cooking whose obligation menu of fried tempeh and sambal. The moments which I’ve missed for 5 years!!! .. Yeah, home is where my mom is 💝 .. Tahun ini masih dilema juga mau mudik atau nggak karena suami nggak libur kerja malah mau dinas ke “jeJERe kauMAN” sehingga kalo pun berangkat harus saya dan Musa sendiri. Ngebayanginnya aja udah lelah, kan, handle bocah aktif sendiri, ditambah bayangin mobilisasi dari dan ke SBY yang situasinya lagi diserang negara api 😆. Dengan pertimbangan ayah ibu mertua sudah berkunjung ke Jepang cukup lama, kami sepakat nggak pulang Agustus ini. Biasanya beberapa tahun belakangan kami memilih mudik di akhir tahun atau libur musim panas mengingat adanya libur kantor memang pas itu dan ternyata lebih asyik pulang ketika trafik lalu lintas sedang normal (baca: normalnya Indonesia zaman now tetep ada macetnya, sih.. 😅) dan harga-harga komoditi lagi waras 🤪 .. Akan tetapi, pengeeen bangetttt.. kangeeen bangettt.. bisa makan penyetan buatan Mom lagi pas sahur, minum teh anget dan sop buah lagi pas wayahnya buka.. dan tempe mendoan petis yang dahulu beli tapi dekade terakhir ini Mom selalu goreng sendiri. Juga lebaran yang selalu bikin beliau malemnya nggak bisa tidur karena harus beresin rumah dan nyiapin hidangan buat tamu yang tak henti berkunjung (termasuk tamu-tamu yang dulu ngunjungin nenek kakek dan masih rajin nyambung silaturahim sampe sekarang). Huaaa.. ya Allah, take me back to my childhood for a moment 😢 .. Baarakallah, yangti-nya #musaromas @hermeywahyuni , semoga sisa usianya semakin bermanfaat buat orang banyak dan selalu dalam lindungan-Nya. Aamiin. Sehat selalu, ya! 🤩😇

A post shared by Ega Dioni Putri (@egadioniputri) on

potty (toilet) training story copy

Bye-bye, Diaper!


“Little poop going down” said Musa to his grandpa and grandma when we were in Hibiya park enjoying tulips (2018/04/10)  🤣 I think it was the most epic words from him during his toilet training and also that day was considered as my most thrilling moment with an on-training-toddler because for the first time I trusted him to not wear training pad at all while going outside. He, however, managed to keep his brief (or boxer? or trunk? whatever you say) dry until we touched down home again despite the challenges to find public toilet along our way for the first tour of Datuk and Nenek (Aisar’s parents) in Tokyo: Tokyo station –> Imperial Palace –> Hibiya Park –> Tokyo Tower. Super thankful Japan is very convenient in terms of providing the restroom wherever we go.

tulips in Hibiya Park Tokyo

Who knew that in this pic somebody was actually holding his urge to go to toilet 😀

It took over two weeks to finally I got ready to let Musa move without training pad support the whole day and night. Why me who got ready? Yeah, potty training  or toilet training is not only about your kid’s achievement. The challenge itself could be bigger in parent’s readiness, for example in my case I wasn’t prepared to train him in the winter since it would be bother me a lot to have extra laundry and wait them dry. I imagined to wash his clothes more plus the carpets, blanket, bed sheets, mattress and pillow, etc. which might be affected by pee or poo accidents. So, I waited until the temperature raised. Sadly, I already slipped my target to get him trained in the summer last year due to busy days, thus I didn’t want to wait till the next summer. Continue reading