Musa’s Weaning Journey


Day 3 fully weaning #musaromas has ended and unbelievable he neither forced me to give milk nor cried at all today!!! Never in our days before he turned two years I had more than 24-hours without breastfeeding him unless (if any) he acted like crazy only for getting a little drops of breastmilk. Now am struggling to overcome the engorgement while hoping that the supply would decrease soon. #weaningwithlove (curcolan di bawah.. 😬)

18382427_302242520197907_4030978797598670848_n

Source: Instagram @egadioniputri

Ngomongin soal sapih-menyapih, kami (ini proses mama, Musa, dan juga papa) punya perjalanan yang lumayan panjang hingga hari ini. Mulai dari desakan pediatrician (dsa) saat Musa usia 9 bulan untuk menghilangkan night feeding (nenen di malam hari), sleep training yang diulang beberapa kali periode tapi belum sesuai target (si bocah sudah bisa tidur sendiri, tapi masih suka kebangun malam dan minta nenen), sampai perubahan sikap Musa yang semakin menjadi minta nenen justru menjelang usia dua tahunnya (tadinya hanya di seputar masa tidur tiba-tiba di siang bolong lagi main-main pun sering minta). Kalo melihat betapa garis kerasnya dulu doi dengan ASI (nggak minum sufor dan nggak terlalu suka susu sapi), memang saya sudah kebayang lamanya proses ini.

Begitu pulang dari check up 9 bulan di mana kami di-scam sama dokter itulah pertama kali nyoba buat nidurin Musa, termasuk sesi ngelindur tengah malam, tanpa nenen. Teorinya, jangan sampai bayi mengasosiasikan suasana tidur dengan ASI, dan seperti apa dia mengawali tidurnya maka begitulah dia akan berharap hal yang sama ketika terbangun malam. Kalo bobonya mimik ASI dulu, apalagi tertidur saat sedang asyik, ya pas bangun malam itulah yang dicari, begitu pun sebaliknya. Maka baiknya nggak usah dikasih sama sekali. Proses melatih doi tidur seperti ini terjadi beberapa kali di Amrik, di rentang usia 9-18 bulan, tapi nggak ada yang berhasil lanjut. Cuma sekian hari jalan, terus balik lagi ke kebiasaan lama. Coba lagi, gagal lagi. Entah karena sakit lah, traveling lah, emaknya tepar lah, atau bapaknya ngantuk nggak mau diganggu lah (paling sering.. haha).

“Dia udah terlanjur hafal ritual tidur di tempat ini. Butuh suasana baru buat berubah mungkin,” kata suami someday. Kebetulan takdir membawa kami pindah ke Jepang. Satu bulan pertama di hotel sempat dilatih lagi, tapi dasar Musa kalo protes suaranya ampun cetar membahana dan tahan nangis lama jadi berhenti karena khawatir ganggu tetangga. Tahu sendiri lah orang Jepang kaya apa sensitifnya.. Baru setelah settled di apartemen, usia Musa pas 1,5 tahun, dan saat suami ditugaskan ke LN (biar nggak ganggu), saya jalanin lagi sleep training ke Musa dan… kali ini berhasil!

Terhitung sejak itu normalnya Musa bisa mengawali tidur malam tanpa nenen, tapi masih drama banget (aka nangis heboh sampai mamanya nyerah) ketika terbangun malam dan bobo siang. Nah, gara-gara traveling lama sempat doi kolokan lagi sebelum tidur hingga papanya nemuin cara buat nidurin di malam hari: “Tunggu Mama shalat”. Sekitar dua bulanan tiap saya shalat Isya, Musa yang biasanya sudah ngantuk berat menunggu mama selesai sambil tiduran, terus lama-lama ketiduran deh. Kalo doi belum tidur saya shalat lagi dan lagi.. sunnah kek, QL kek.. pokoknya sampai doi tak sanggup lagi membuka matanya, alih-alih mau meraung minta susu. Hahaha. Ya tapi gitu, sampai hari terakhir sebelum dua tahun baru ilang nenen sebelum bobo aja. Waktu-waktu lain sih doi masih anak ASI banget.. kebangun tidur minta, kecewa atau jatuh minta, mau bobo siang (di mana nggak ada adegan shalat) bingung juga cari-cari. Minum susu sapi pun nggak efek, tetap cari puting, wong pengen nyamannya doang kok aslinya.

Kondisi seperti itu masih berjalan hingga ultah keduanya, bahkan seperti yang saya singgung di atas, Musa jadi lebih demanding selepas Februari. Minta susu di luar waktu tidur udah kaya bayi aja. Saya sampai heran.. ini anak kok seolah kaya sengaja muas-muasin sebelum saying good bye 😅. Saya yang sebetulnya udah lelah dan risih banget akhirnya jadi mellow juga. Meski sakit dan pengen udahaaaan aja, kalo lihat peaceful-nya muka si kecil ya gemes juga. Wkwk.. tahvava. Jadi, baru kemarin-kemarin tuh saya udah hopeless nyangkanya nggak akan bisa langsung bye-bye nih kayanya pas dua tahun. Musa kalo lagi minta tapi ditolak itu reaksinya.. aduhai, celaka! Tangisannya kaya serigala dan kadang saya juga dibuat babak belur olehnya. Ternyata eeeh ternyata.. begitu ketok palu dok! Hari-H ultah dua tahun sampai hari ketiga ini bisa juga doi meninggalkan benda kesayangannya itu.

Faktor umur mungkin ngaruh juga ke keberhasilan. Makin gede makin bisa dipahamkan. Memang saya sounding-nya cukup lama juga ke dia dengan mengulang-ulang kalimat seperti: “Musa is a big boy now”; “Big boy drinks milk from cup”; “Only baby drinking mama’s milk”; “You have to say bye-bye to mama’s milk soon” dan “No breastmilk anymore” (sorry nih roaming, emang kalo sama anak saya ngomongnya pake bahasa bule.. wkwk). Yah, meski demikian sebenarnya doi selama ini tetap nggak mau dengar apa pun kalo lagi pengen nenen. Seringkali hanya melambaikan tangan pertanda “bye-bye” tapi mulutnya tetap nyot-nyot.. LOL.

Sebagai closing, throwback dikit tentang strategi kecil yang ternyata sepertinya ngaruh. Ceritanya, karena sudah putus asa dan sedari awal saya nggak mau pakai yang seram-seram atau pahit-pahitan di PD, saya minta ide suami. Ohya pengennya sih dulu nyetop dengan cara natural, yakni ngurangin produksi ASI, tapi itu sama aja bohong kalo demand dari anaknya masih ada. Mau maksa tubuh buat stop supply gimana caranya? Akhirnya suami menyarankan agar ditutup dengan stiker aja. Pergilah saya ke Bic Camera (toko elektronik) beli kertas label ukuran A4, kemudian kertas itu digunting bulat sesuai ukuran yang dibutuhkan dan demi menambah efek dramatis, saya gambarin deh stikernya dengan ekspresi “scary”. Teringat ada teteh yang gambarin PD-nya dengan “kao-san” saat menyapih putri sulungya. Hihihi. Trik ini sukses bikin Musa bingung nggak dapat akses ke ASI di pagi hari pertama penyapihan, lalu di hari kedua juga begitu pagi-pagi (bangun tidur). Hari ketiga ini, doi sama sekali nggak maksa minta, hanya 2-3 kali tunjuk-tunjuk tapi Mama cukup ingatkan dan dia pun diam, nggak nangis atau protes, dan minum fresh milk banyak sekali. Alhamdulillah.. semoga lanjut terus sampai lulus weaning journey 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s