A Worth Waiting


Setelah perjuangan mendapatkan restu dari orang tua untuk menikah selama kurang lebih tiga tahun, aku dan Aisar akhirnya ijab kabul di usia yang masih dianggap muda oleh kedua mertuaku: 23 tahun. Maju dua tahun dari usia yang diharapkan … lumayan lah jadi win-win solution karena kami kan pengennya sejak masih sama-sama ngampus. Jadi, 23 adalah usia tengah dari idealisme anak dan orang tua. Ha ha ha.

Sebelum menikah, aku sempat membekali diri dengan ilmu seputar pernikahan dan reproduksi sedikit di sekolah pranikah Salman, tapi jujur saja untuk masalah parenting, aku clueless. Aisar juga sama. Syukurlah, kehidupan rumah tangga di tahun pertama kami masih disibukkan oleh kuliah S2-ku dan persiapan untuk haji. Kami memang punya mimpi segera berhaji jika sudah ‘sah’. Saat itu, kami masih menjadi pasangan yang serba tercatat dan sering bicara soal peta hidup. Udah jelas habis nikah tuh mau ngapain aja, kapan punya anak, kapan pergi ke tempat-tempat impian, kapan maksimal suamiku harus lanjut S2, dan seterusnya, termasuk perihal haji. Maklum lah nggak ada kerjaan. Jauh dari keluarga besar juga, jadi tidak ada kewajiban ini itu seperti keluarga kakak-kakak iparku. 😛

Namun, yang namanya hidup bersosial di lingkungan Indonesia, meskipun dari awal nikah udah mantap untuk berhaji dulu dan menunda punya anak, ada saja bisikan seperti “Nanti kalau ditunda-tunda, pas pengen malah susah lo!” atau “Jangan pakai KB kalau belum pernah punya anak, nanti susah hamil”. Jujur saja semuanya sempat membuatku goyah. Benar enggak ya kami sengaja tidak ingin ada kehadiran seorang anak dulu? Akan tetapi, kata-kata suamiku memang cukup menyihir:

“Punya anak cepat-cepat itu kan enggak wajib. Yang wajib itu haji kalau sudah mampu.”

Ah, ‘tul juga! Mantaplah kami berangkat haji saat usia pernikahan baru 17 bulan dengan ikhtiar KB alami bernama ‘azl selama itu. Alhamdulillah, aku sukses tidak hamil hingga misi kami usai.

Haji dari Jepang menjadi penutup perantauan kami di Jepang ketika itu. Kami pun memulai hidup baru di Indonesia, negeri sendiri yang malah belum pernah kami tinggali sebagai suami istri. Banyak hal yang membuat bingung, misalnya sesederhana memasang regulator tabung gas saja kami belum berpengalaman, apalagi perkara sulit seperti memilih pendidikan anak. Boro-boro deh pernah terpikir di kepala! Maka, atas dasar serba bahlul itu tadi, ditambah Aisar pun sedang sibuk cari kerja dan sekolah, aku pun setuju untuk terus melanjutkan program menangguhkan kehamilan hingga terang jalan masa depan kami. Cieee …

Di bulan keenam kami tinggal di Indonesia, ternyata aku hamil. Tidak lama setelah test pack yang kupakai karena terlambat haid menunjukkan dua garis, aku mengalami pendarahan. Oh, rupanya keguguran! Hasil USG pertama menunjukkan kantong janin yang kosong dan membuatku bed rest, lalu disusul image rahim yang bersih dua minggu kemudian. Inikah yang namanya kehendak Tuhan sesuai dengan prasangka hamba-Nya? Aku pun merasa bersalah. Ya Allah, maafkan aku yang belum mau hamil …

Hanya berselang dua bulan kemudian, di lokasi yang terpisah puluhan ribu kilometer dari kehamilan pertama, aku baru sadar kalau sedang “isi” lagi. Bayangkan, belum ada sebulan pindah ke negara asing, rumah aja masih semikosong dan mobilitas kami tinggi sekali, tiba-tiba harus kayak putri solo. Berhati-hati demi tidak keguguran lagi. Siap tidak siap, kami tidak ingin kehilangan lagi. Rumah sudah settled dan yang dikejar pun tercapai. Mau nunggu apa lagi?

Kehamilan kali itu berjalan dengan sehat hingga lahirlah seorang anak laki-laki mungil yang kutuliskan kisah kelahirannya di sini. Satu dari tiga nama yang kami siapkan untuk our future children akhirnya terpakai. Kami bersyukur berkesempatan belajar jadi orang tua dari nol tanpa bantuan dan intervensi keluarga besar sama sekali. Dari situ kami tumbuh bersama anak. Memasuki dunia yang benar-benar berbeda dengan couple world selama tiga tahun sebelumnya.

What a child worth waiting for!