Merancang Undangan


“Mana undangannya?”
“Ditunggu undangannya!”
dan kalimat-kalimat senada lainnya biasa jadi bahan bercandaan kita.
Entah undangan apa maksudnya, tapi sepertinya semua orang sudah mafhum kalo yang dimaksud adalah undangan pernikahan😀

Kenapa undangan yang ditanyakan? Kenapa bukan udah booking gedung atau belum?
(Ya iyalah, mana bias dibandingin.. ah contohnya nggak pas ini -_-)

Yeah, anyway, emang ternyata sepenting itulah peran sebuah undangan.
Kalo benda satu ini udah dirilis dan disebar, mungkin jadi ada perasaan bangga karena bisa jawab pertanyaan orang-orang seputar undangan tadi.

Hehe. Baru menyadari nilai sebuah undangan setelah mengalaminya sendiri.
Setiap detil isi undangan yang akan dituangkan harus dipikirkan masak-masak, didiskusikan bareng oleh kedua belah pihak yang sering diselingi debat, dan disesuaikan dengan kamus serta EYD. Yang terakhir lebai kali pun.. kalo mantennya nggak perfeksionis sih nggak ada tahap itu kayanya.

Belum lagi desainnya.. wuah, nggak cukup sehari mikirnya.
Mulai model, warna, jenis kertas, hiasan, harga, dan lama pengerjaan kudu dipertimbangkan.
Bagi manusia awam akan dunia percetakan bagian ini cukup bikin pusing.
Harus rajin cari informasi di internet, mengamati berbagai contoh desain, dan bahkan membuat simulasinya sendiri dengan mencetaknya atau menggambarnya. Catatan: proven by me and my cousin at least.
Demi mendapatkan undangan seperti yang kita inginkan, cara terakhir lumayan membantu.
Soalnya kan nggak mungkin kita ngendon lama-lama di percetakannya hanya untuk memilih jenis kertas, ukuran, warna, dan sebagainya.

Berikut laporan lapangan dari pengalaman pribadi merancangan undangan pernikahan.

Langkah pertama: Memilih tema dan warna
Karena tema dan warna pesta pernikahan sudah ditentukan, untuk undangan baik online maupun fisik tinggal mengikuti warna tersebut. Dalam kasus saya, semua perlengkapan pesta sebisa mungkin disamakan temanya.

Langkah kedua: Mendesain isi undangan
Isi undangan meliputi gambar dan teks atau foto kalo mau. Kalo mau ikut mainstream sih nggak perlu capek-capek mikir. Tinggal contek aja dari yang sudah-sudah, misalnya:

  1. Ada kata-kata puitis seperti ayat Al Qur’an, hadits Rasulullah, do’a Rasulullah, atau bikinan sendiri. Ayat yang sering dipakai Ar Ruum 21. Doa yang sering dipakai doanya Rasulullah pada saat pernikahan Fatimah Az Zahra. Lainnya masih banyak lagi yang jadi favorit orang-orang.
  2. Kata-kata pembukanya “Maha Suci Allah yang telah mempertemukan bla bla bla..”, terus nama mempelai, terus tujuan menikah seperti “..untuk mengikuti sunnah Rasul-Mu, membentuk keluarga sakinah mawaddah bla bla bla”
  3. Rincian acara akad nikah ditaruh di bawah nama mempelai
  4. Rincian acara resepsi diletakkan di bagian tersendiri yang diawali pembukaan seperti surat tersendiri
  5. Nama kedua orang tua
  6. Desainnya pakai pola tumbuhan yang menjalar-jalar, entah daun atau bunga

Begitu kan yang standar?😛

Nah, kalo pengen yang nggak kaya biasanya baru deh butuh waktu lebih buat mikir. Seringkali yang standar itu kalimatnya tidak sempurna. Majemuk, tapi tidak jelas subyek predikatnya. Ada baiknya kalo pun mengikuti ‘template’, diedit sedikit lah itu yang bagian janggalnya.

Berhubung saya hobinya pemerhati bahasa, sejak dulu pengen punya undangan yang kalimatnya dibuat sendiri. Tidak ikut yang sudah ada dan nggak kaya pujangga. Lugas, padat, dan jelas. Kami bikin undangan dari web undangan yang sedia jasa gambar. Dari galerinya hamper semua desain terdahulu ada kata-kata mutiara di cover-nya. Kami memilih nama mempelai dan tanggal pernikahan saja. Hiasannya pakai taburan bunga sakura tanpa batang atau daun, serta ada variasi pita membelit dan menjuntai-juntai. Bagus juga kok ternyata keluar dari kebiasaan😀.

Langkah ketiga: Memilih model undangan
Setelah isi undangan jadi, saatnya menentukan bagaimana bentuk undangannya fisiknya. Dari model bisa ditentukan jumlah halaman yang dibutuhkan. Model ini meliputi beberapa hal berikut:

  1. Orientasi, landscape atau portrait
  2. Ukuran kertas
  3. Jumlah kolom
  4. Bentuk lipatan (berapa banyak, ke luar atau dalam)
  5. Peletakan aksesoris
  6. Spesifikasi huruf

Langkah keempat: Memilih jenis kertas dan pemanis
Kertas juga menentukan norak tidaknya undangan😛 Kadang meskipun desainnya sederhana, tapi kalo kertasnya bagus, undangan bisa tampak lebih berkelas. Jenis kertas yang bisa dipakai undangan antara lain sebagai berikut:

  1. Kalkir -> ini biasanya buat halaman pemanis di awal (setelah cover sebelum isi)
  2. Doff -> dilapisi plastic, waterproof, biasa dipakai kemasan luar kaset atau baju
  3. Hamer-> satu sisi halus, sisi lainnya kasar kaya tembok yang dicat
  4. Glossy -> kertas yang biasa buat nyetak foto
  5. Jasmine -> ini umum banget dipakai undangan, yang ada glitter emas/peraknya
  6. Import -> walaupun nggak ngerti maksudnya “impor” apa, tapi ini adalah kertas yang teksturnya bervariasi, dari bludru sampai kulit buaya ada

One thought on “Merancang Undangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s