Chesnut Mont Blanc


My son’s favorite song these days is “Ookina Kuri no Ki no Shita de” (Under the Big Chesnut Tree). He seemed bringing home a deep memory about this song since it was taught in jidokan (children hall) during the last month, which is like compulsory song for Japanese kids in the autumn. Haha. Meanwhile, in the Mom’s world, kuri (chestnut) itself started stealing my heart by showing up more often on Japanese patisserie, Japanese cooking programs, Japanese foodie accounts, etc. right after the summer season ends.. 🤤 Anddd as a nuts big fan, I can’t resist its charm that impulsively bought a basket of fresh chesnuts without idea how much effort I need to peel until I spent 1,5 hours just to separate the meats and the shells of (only) two dozens chesnuts 😑. Phew!

I read the recipe to make maron paste (マロンペースト) from scratch indeed, but it didn’t tell anything about peeling process, just boiling, and between the hectic moments in preparing dinner meal, I had no time to watch the video, so I kept going. After boiling in the covered pot for 20 minutes, I added a pinch of salt, boiled again for 5 minutes, drained the water, soaked the chesnuts in the cold water, then peeled it using small knife.

I think I’ll buy the ready-to-eat chesnuts next time. Thank you for the experience though! LOL

Continue reading

Tom Yum Soup (without Coconut Milk)


Posted from egadioniputri‘s Instagram on October 26, 2017 at 10:53AM

Tom Yum Soup (without coconut milk) in the rainy day is the best menu you could expect! ☔️
👨‍🍳 Original recipe from this page by @thespruceeats
🍳 Recooked and modified by #recipega(written below in 🇮🇩)
.
.
Belakangan ini karena hujan terus, saya sering bikin bakso, sup, mie rebus, bakso lagi, sup lagi, dan seterusnya. Bosen juga lama-lama sama menu nusantara. Akhirnya semalam (hujan juga) saya yang lagi pengen makan seafood langsung kepikirannya sup udang ala Thailand yang asem-asem gurih pasti segeeerrr.. tapi awalnya cuma nemu resep-resep #tomyum pakai santan. Baru setelah spesifik cari, nemu juga yang bening, padahal aslinya tom yum tradisional emang #tanpasantan. Begitu jadi, duuuh.. cinta banget deh! Aromanya persis seperti yang saya bayangkan. Rasanya pun tak disangka autentik meski dengan bahan seadanya. Musa aja nambah berkali-kali dan mau nyeruput kuahnya.. .
.
#reseptomyum utk 2 porsi
🍜 BAHAN
– 250ml atau lebih kaldu ayam homemade (WAJIB ada di freezer saya jadi saya selalu nyetok, saat masak ayam atau sapi, kulit/uratnya saya sisihkan untuk buat kaldu), tambah air secukupnya
– 1 btg serai, iris tipis
– 2 daun jeruk
– 3 siung bawah putih
– 1 ruas lengkuas
– 1/2 ~ 1 cabe merah gede (buang biji kalo buat anak)
– jus dari 1 buah jeruk (saya pakai jeruk buah biasa)
– 1/2 sdm shoyu
– 1 sdm minyak ikan Thailand
– 1/2 sdm gula
– 6 bh udang large size
– 1/2 kotak tahu (12×12 cm)
– sayuran (saya: sawi ijo 3 ikat daun aja, sawi putih 1 cup, jamur kuping 5 bh, tomat cherry 2 bh, dan daun seledri buat pemanis terakhir)
🥘 METODE
(1) Didihkan: kaldu ayam dan air, batang serai dan daun jeruk
(2) Kecilkan api, masukkan ulekan bawang putih dan lengkuas, potongan cabe, dan perasan jeruk
(3) Masukkan udang, shoyu dan minyak ikan, gula, lalu sayuran yang udah dipotongin
(4) Masukkan potongan tahu
(5) Sajikan (saya pakai nasi dan remukan pangsit goreng 😝)
.
.
#tomyumkung #tomyumsoup#shrimptomyum #rainyday #homemade

Trip to Aichi – Day 2


We had unforgettable experience in the Day 1 from Toyota city. This second day we met our Japanese friends, who were fellow Michiganders, at Kariya city, and visited an Indonesian food company at Nishio city, Sariraya. Both cities are located in the southern Aichi.

BREAKFAST WITH LEFTOVERS

Menginap di AirBnB itu enaknya bisa masak atau ngangetin makanan, minimal buat sarapan lah.. lumayan banget menghemat waktu. Dibandingkan harus ganti baju untuk keluar beli makanan dulu atau sarapan di ruang makan (kalo hotelnya nyediain), mending usaha dikit buat ngusir rasa males-masak-karena-liburan demi sepiring nasi dan telur dadar 😜. Nasi pun kalo di Jepang ada yang instan jadi tinggal dipanasin aja.. tapi pagi ini kami kebetulan masih punya sisa dari makan malam di restoran halal Kashmir kemarin. Makanan Pakistan nggak pernah gagal memuaskan selera kami deh pokoknya, walaupun rada aneh dan baru pertama kali ini lihat nasi biryani pakai beras Jepang 😂. Segitu susahnya kah dapetin beras basmati di sana? 🙄

Pakistani naan bread and mutton curry from Kashmir restaurant, Nagoya. We could finish only half of it and ate the leftovers for breakfast in the next day.

Pakistani chicken biryani, tandoori, seekh kabab, etc. from Kashmir too

Musa yang biasanya suka kambing tumben lebih tertarik ke naan (doi tetep gigih nyebutnya “pizza”) dan tandoori kali ini. Sarapan doi adalah dua itu tadi plus yogurt dan jeruk. BTW, saya sering ditanya tentang hal ini oleh teman-teman yang bawa anak kecilnya pergi dan biasanya saya bilang makanan doi sama aja kaya papa mamanya, cuma saya tambahin lemak dari yogurt, keju, atau kacang-kacangan atau yang dia suka semacam buah-buahan.

TV di penginapan alhamdulillah akhirnya bisa nyala juga channel digitalnya setelah diutak-atik Aisar, jadi Musa bisa tetap nonton program-program anak NHK pagi hari dan senam kecil dari situ 😆 Continue reading

Trip to Aichi 2017 – Day 1


Second long trip since we moved to Japan a year ago, this short escape also became our second visit to Aichi prefecture. We expect this time we’ll hpave quite enough time to explore Nagoya since at past we only checked in here to get off and ride the night bus, plus plan to visit some other cities as our destination now with the motivation to look for kid entertaintment 🤣.

(Lanjut dalam Bahasa)

Bus ke Nagoya dijadwalkan berangkat hari Kamis kemarin, 12 Okt, pukul 11.25 PM. Malem banget? Iya, namanya juga bus malam 😛 dan di Jepang ini mau ke mana aja kalo naik bus malam biasanya diset biar sampai tujuan pagi jam-jam 6-7 lah, jadi berangkatnya pasti larut, dihitung mundur dari waktu perjalanan, tergantung tujuannya. So far, satu atau dua dari kami udah pernah coba bus malam ke Osaka (2010), Nagoya (2011), dan Okayama (2012) dengan merk bus yang berbeda-beda. Jadi misal kalo ke Osaka berangkatnya lebih awal daripada ke Nagoya, tapi sampainya tetap kurleb sama jamnya.

Kali ini, kami menjatuhkan pilihan pada Willer Express bus. Untuk tarif bisa dicek di situsnya, ya.

DEPARTURE

Berhubung jam berangkat udah lewat jam tidur Musa, tentu saja kami berharap bisa menidurkan doi dulu sebelum berangkat. Cuma hari itu sibuk bangettt.. seharian saya nganter doi ke jidokan (children hall) buat ikut kumpul bocah, abis itu belanja grocery, ngurusin cucian karena ada baju yang mau dibawa, ngurusin sisa bahan di kulkas (baca: masak), packing, dan ada acara ngejahit jaket dan daster rusak segala. Maksa banget mau bawa baju yang lagi sobek. Itu belum termasuk nafsu datang ke matsuri di stasiun tetangga sore harinya. Hahaha. Aisar pun yang katanya iya-iya pas diajak ke matsuri, ditungguin nggak pulang-pulang dan jam 9 malam baru di rumah 😣 Alhasil, si bocah gagal bobo sampai duduk di bus. 🚌

EA5512 Kamata to Nagoya

Departed from Keikyu Kamata station near our home on 10:53 PM

Right across the Yodobashi Camera, Le Front Kawasaki, our bus was ready to go on 11:30 PM

Continue reading