久しぶりサラリーマンにお弁当作ってあげた♡♡♡ – Musa has turned one month today, hope our life back to normal soon 😀 Happy working, Papa! This two-week was very tough spending the day without you. #bento #bentotowork #お弁当 #弁当 #エビフライ #カレイ #recipega Posted by @egadioniputri via Instagram
Musa Moves into Bath Tub
#ea5512 story Because BLUE for baby boy is too mainstream 😛 thanks Ayako for passing down this tub. Musa Romas finally enjoyed his bath time 😀 this was his third experience, we started to place him in the tub since his second week after his umbilical stump fell off quickly at the 5th day of his life. Bathing steps ala Musa’s mommy and daddy: #1 – Prepare washcloth, baby wash and shampoo, and hooded towel / Siapkan waslap, sabun dan sampo bayi (biasanya jadi satu), dan handuk yang ada ‘topinya’ #2 – Fill up with about 2 inches of warm water (90 degree F or less) / Isi bak mandi dengan air hangat setinggi kira-kira 5 cm #3 – Place the baby in the tub while supporting his head or neck with one hand / Letakkan bayi di bak sambil satu tangan menyangga kepala atau leher bayi demi keamanan >> kali ini Musa lagi nggak dipegangin karena emaknya ambil foto, jangan ditiru kecuali embernya punya desain yang suportif 😀 #4 – Wipe the eyes first from inside to outside with cotton pad an d clear water / Usapkan kapas yang telah diberi air bersih (tanpa sabun) pada mata, bersihkan dari bagian dalam dekat hidung ke bagian luar #5 – Clean the outer side of ears with cotton bud and clear water / Bersihkan daun telinga dengan cotton bud dan air bersih #6 – Gently wash the face, the body using washcloth from top to the bottom, then diaper area / Dengan menggunakan waslap yang sudah diberi sabun, bersihkan wajah, badan depan dan belakang, lalu area kelamin #7 – Lift the baby out of tub, rinse with clear water if you want, but basically it’s not necessary. Just wrap him immadiately with towel to dry off. / Angkat bayi keluar dari bak mandi, bilas dengan air bersih (kami pakai baby shower) atau langsung dibalut dengan handuk tanpa membilas (air bekas mandi bayi dianggap bersih, kecuali kalo doi pipis atau pup didalamnya :P) #8 – Last step is shampoo time. While the baby is wrapped with the towel, wash his hair, put shampoo, and rinse. We just use hand palm to do it, but it’s better if you have rub or brush. / Keramas dilakukan terakhir saat bayi sudah dibalut handuk. Kami cuma pakai telapak tangan, tapi kalo punya spon khusus lebih bagus tuh 😛 Sepertinya kalo sudah besar bisa langsung dikeramasi di dalam bak. Sejauh ini masih manut sama yang diajarin suster di RS. Don’t forget to put his diaper soon!
Posted by Ega Dioni Putri via Facebook
FB Photo on May 22, 2015 at 08:12PM
The Day when He Knocked The Door to The World
Banyak yang penasaran nanyain proses kelahiran Musa karena memang tidak saya sebutkan saat ‘launching’-nya apakah lewat persalinan spontan atau c-section 😛 Sebagian bertanya karena sedang hamil dan ingin tahu bagaimana melahirkan di sini. Amrik ini rada lain daripada yang lain terkait persalinan. Rumah sakitnya punya standar unik dalam memperlakukan ibu dan bayi yang diterapkan di seluruh state. Kontrasnya, persalinan alternatif di luar rumah sakit juga makin marak di sini, apalagi setelah satu per satu dilegalkan alias dilindungi oleh undang-undang. Hal tersebut terlihat jika kita menyimak bab semacam choosing your provider yang hampir selalu ada di buku-buku seputar kehamilan. Saya, yang kebetulan tinggalnya dekat rumah sakit bertaraf internasional milik kampusnya suami, alhamdulillah jadi tidak perlu susah-susah memilih akan melahirkan di mana dan bagaimana.
Asyiknya hamil di sini karena resources panduan ibu hamil yang ngetop baik online maupun offline asalnya dari Amrik, saya bisa mencocokkan antara teori dan praktiknya, yang ternyata seringnya persis! Misalnya, kalo menurut teori di minggu antara 24 dan 28 saya harusnya menjalani glucose test, eh.. bener emang di usia kehamilan 26 minggu saya dijadwalkan tes glukosa. Atau contoh lainnya, kalo menurut teori hamil usia 35 tahun ke atas beresiko tinggi dan harus tes DNA, maka begitulah yang saya dengar dari senior-senior berkriteria tersebut. Alhasil saya enjoy banget melahap berbagai bacaan dari internet, aplikasi HP, atau buku-buku, sedangkan di saat yang sama teman-teman sesama bumil di Indonesia beberapa kali nanya ke saya tentang tes ini-itu yang dia nggak dapat dari tempat kontrolnya. They even have no idea what those are.. ya iyalah saya juga banyak yang baru tahu setelah di sini 😀 Meski kesannya ribet karena banyak tes yang harus dijalani selama kehamilan, setelah sharing dengan teman-teman di Jepang / Indonesia, sebenarnya sama aja ribetnya hanya beda fokus. Hehehe..
That Amazing Feeling
“Do you believe that he is here?”, tanya Mary, seorang nurse yang bertugas mengunjungi saya dua hari setelah keluar dari RS, ketika Musa berusia empat hari. Di sini, ibu dengan persalinan normal tanpa komplikasi atau masalah lain termasuk pada bayinya, hanya tinggal di RS selama dua hari, lalu diikuti dengan program “Nurse Visit” di rumah masing-masing minimal dua hari kemudian. Kami (saya dan suami) hanya 36 jam berada di RS sejak check-in ruang triage (tempat ngecek apakah pasien udah layak dirawat inap di RS) hingga check-out ruang postpartum (kamar buat ibu dan bayi serta keluarganya pasca melahirkan). Selama masa tinggal di RS yang singkat itu, kami lumayan sibuk menjalani serangkaian pemeriksaan atau tindakan medis baik bagi ibu maupun bayi. Kalo ada waktu, insyaaAllah nanti saya ceritain di lain tulisan deh.. bocoran dikit: Musa udah disunat, lho! 😀
“Well.. I don’t believe it. I still can’t believe that he’s in my hand as that soon. My labor and delivery were fast,” itu akhirnya jawaban saya buat pertanyaan Mary tadi, yang sepertinya lebih ke perasaan “masih nggak percaya aja dulu bayi ini tumbuh di perut kita” menurut istilahnya jeng Elin. Nggak pernah ngira semenakjubkan itu rasanya ketemu seseorang yang selama sembilan bulan menyatu dengan diri kita, makan, minum, senang, dan sedihnya pun tergantung kita, tapi cuma bisa dibayangin wajahnya (oya, saya nggak dapat 3D ultrasound..hiks hiks). Entah tujuan mereka nanya itu di kuesioner apa, tapi kata Anom, mungkin ada hubungannya sama kondisi psikologis ibu. Demi mastiin kalo saya masih waras mungkin, padahal kalo nggak salah dua malam sebelum kunjungannya itu saya baru ngalamin malam yang super berat dan sepertinya nge-baby blue karena Musa hampir tiap jam nangis jerat-jerit nggak bisa tidur, diperparah dengan skill menyusu dan menyusui yang masih buruk. Memang satu hal yang saya nggak expect bakal se-wow ini sebelum lahiran adalah aktivitas ngasih makan si bayi. I won’t lie.. breastfeeding is exhausted and needs much more patience than pregnancy. Untungnya, selain malam itu, alhamdulillah sampai hari ini kantuknya nggak separah begadang zaman kuliah saat skripsi, ujian, atau ngejar deadline tugas dulu sih.. terima kasih kampus gajah, especially prodiku yang aduhai, telah menempaku sekeras baja.. hahaha 😀 Continue reading





