Heartbeat Detected


One day in Ramadan this year, we experienced to see and hear the most relieving heartbeat ever when an empty sac in my belly turned into a sac with tiny creature inside. SubhanAllah wal hamdulillah! I went through uneasy time before that day. Physically, I had the nausea, back pain, stiff legs, and migraine alternately during the day. Mentally, I had less appetite to do anything and often questioned: am I suffering all these aches for ‘something’? with the baby wasn’t showing up yet, it was hard time to bear the pregnancy symptoms patiently. I spent the days to read many articles about empty sac and got prepared to receive any bad fate such as blighted ovum (涸死卵) or miscarried (流産)! Here I’d like to tell you that…

Facing all the possibilities in pregnancy may be not always easy to accept, but keep believe in The Creator who never makes anything reason-less. Be thankful to be trusted to get pregnant instead.

It was not the first super-anxious-two-weeks for me. Back to the past I had:

  • [2014] Two weeks waiting for the next check up at OBGYN while expecting the bleeding to stop in my first pregnancy –> ended up in miscarriage at 6-7 weeks T_T
  • [2015] Two weeks waiting from week 24 to week 26 for additional ultrasound to make sure whether the fetus in my womb normal or having problem since the ultrasound showed the bright color in the bowel area which could be chance for down syndrome (can you imagine how I felt?), cystic fibrosis, or nothing –> ended up healthy baby Musa 🙂

And still, we never know what’s going to happen later… so, for my self reminder and to the fellow expecting mothers out there, please be positive thinking. Our body is ourselves.

Prophet Muhammad PBUH said

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي

Allah the Exalted says: I am as my servant expects me and I am with him as he remembers me. (Source: Sahih al-Bukhari 6970)

empty sac ultrasound

Ultrasound pictures which show the transformation of gestational sac inside my womb: [BEFORE] empty + no fetal pole + no yolk [AFTER] fetus + heartbeat.As this post was written down, the baby aged 14 weeks and had another ultrasound check at 11 weeks.

Based on resources I read and a little explanation from the doctor, invisible fetus in my case was probably caused by late ovulation (I have 40-days-cycle period) or the embryo was too small to be visible. Sometimes they do the ultrasound check too earlyright?

In Japan, we require an ultrasound in every check-up from the first prenatal visit (even though you’re just four weeks pregnant!!!) to officially claim the pregnancy until the last visit before delivery. It’s much different compared to US standard which only requires at least ONE compulsory ultrasound to check gender (around 15-20 weeks). I’m going to write the next passages in Bahasa, so please check these references if you need some guides about being pregnant in Japan:

      1. Savvy Tokyo – 10 Must-Read Articles If You Are Pregnant in Japan (this covers many aspects you need to know from first prenatal visit, administration procedures, cost, to birth
      2. Pregnant In Japan: 15 Things They Do Differently (successfully made me giggled a lot! :D)
      3. Pregnant in Japan: Resources (tells you where to ask helps and buy baby/mom essentials)
      4. Last but not least, don’t forget to check your city’s homepage first before going to the clinic or hospital. There should be a lot of important information to read by newbie.

And if possible, choose the medical institution whose English-speaking staff to support your visit. A number of hospitals in Tokyo even have provided reading materials in English.

Continue reading

Advertisements

The Day when He Knocked The Door to The World


Banyak yang penasaran nanyain proses kelahiran Musa karena memang tidak saya sebutkan saat ‘launching’-nya apakah lewat persalinan spontan atau c-section 😛 Sebagian bertanya karena sedang hamil dan ingin tahu bagaimana melahirkan di sini. Amrik ini rada lain daripada yang lain terkait persalinan. Rumah sakitnya punya standar unik dalam memperlakukan ibu dan bayi yang diterapkan di seluruh state. Kontrasnya, persalinan alternatif di luar rumah sakit juga makin marak di sini, apalagi setelah satu per satu dilegalkan alias dilindungi oleh undang-undang. Hal tersebut terlihat jika kita menyimak bab semacam choosing your provider yang hampir selalu ada di buku-buku seputar kehamilan. Saya, yang kebetulan tinggalnya dekat rumah sakit bertaraf internasional milik kampusnya suami, alhamdulillah jadi tidak perlu susah-susah memilih akan melahirkan di mana dan bagaimana.

Asyiknya hamil di sini karena resources panduan ibu hamil yang ngetop baik online maupun offline asalnya dari Amrik, saya bisa mencocokkan antara teori dan praktiknya, yang ternyata seringnya persis! Misalnya, kalo menurut teori di minggu antara 24 dan 28 saya harusnya menjalani glucose test, eh.. bener emang di usia kehamilan 26 minggu saya dijadwalkan tes glukosa. Atau contoh lainnya, kalo menurut teori hamil usia 35 tahun ke atas beresiko tinggi dan harus tes DNA, maka begitulah yang saya dengar dari senior-senior berkriteria tersebut. Alhasil saya enjoy banget melahap berbagai bacaan dari internet, aplikasi HP, atau buku-buku, sedangkan di saat yang sama teman-teman sesama bumil di Indonesia beberapa kali nanya ke saya tentang tes ini-itu yang dia nggak dapat dari tempat kontrolnya. They even have no idea what those are.. ya iyalah saya juga banyak yang baru tahu setelah di sini 😀 Meski kesannya ribet karena banyak tes yang harus dijalani selama kehamilan, setelah sharing dengan teman-teman di Jepang / Indonesia, sebenarnya sama aja ribetnya hanya beda fokus. Hehehe..

That Amazing Feeling

“Do you believe that he is here?”, tanya Mary, seorang nurse yang bertugas mengunjungi saya dua hari setelah keluar dari RS, ketika Musa berusia empat hari. Di sini, ibu dengan persalinan normal tanpa komplikasi atau masalah lain termasuk pada bayinya, hanya tinggal di RS selama dua hari, lalu diikuti dengan program “Nurse Visit” di rumah masing-masing minimal dua hari kemudian. Kami (saya dan suami) hanya 36 jam berada di RS sejak check-in ruang triage (tempat ngecek apakah pasien udah layak dirawat inap di RS) hingga check-out ruang postpartum (kamar buat ibu dan bayi serta keluarganya pasca melahirkan). Selama masa tinggal di RS yang singkat itu, kami lumayan sibuk menjalani serangkaian pemeriksaan atau tindakan medis baik bagi ibu maupun bayi. Kalo ada waktu, insyaaAllah nanti saya ceritain di lain tulisan deh.. bocoran dikit: Musa udah disunat, lho! 😀

A bundle of guide to take care of newborn at home, given by visiting nurse

A bundle of guide to take care of newborn at home, given by visiting nurse

“Well.. I don’t believe it. I still can’t believe that he’s in my hand as that soon. My labor and delivery were fast,” itu akhirnya jawaban saya buat pertanyaan Mary tadi, yang sepertinya lebih ke perasaan “masih nggak percaya aja dulu bayi ini tumbuh di perut kita” menurut istilahnya jeng Elin. Nggak pernah ngira semenakjubkan itu rasanya ketemu seseorang yang selama sembilan bulan menyatu dengan diri kita, makan, minum, senang, dan sedihnya pun tergantung kita, tapi cuma bisa dibayangin wajahnya (oya, saya nggak dapat 3D ultrasound..hiks hiks). Entah tujuan mereka nanya itu di kuesioner apa, tapi kata Anom, mungkin ada hubungannya sama kondisi psikologis ibu. Demi mastiin kalo saya masih waras mungkin, padahal kalo nggak salah dua malam sebelum kunjungannya itu saya baru ngalamin malam yang super berat dan sepertinya nge-baby blue karena Musa hampir tiap jam nangis jerat-jerit nggak bisa tidur, diperparah dengan skill menyusu dan menyusui yang masih buruk. Memang satu hal yang saya nggak expect bakal se-wow ini sebelum lahiran adalah aktivitas ngasih makan si bayi. I won’t lie.. breastfeeding is exhausted and needs much more patience than pregnancy. Untungnya, selain malam itu, alhamdulillah sampai hari ini kantuknya nggak separah begadang zaman kuliah saat skripsi, ujian, atau ngejar deadline tugas dulu sih.. terima kasih kampus gajah, especially prodiku yang aduhai, telah menempaku sekeras baja.. hahaha 😀 Continue reading