First Ramadan with Two Kids


This year we had baby Noah in our Ramadan. And alhamdulillah, although I fully breastfed him, I could make to do fasting all through the month!

View this post on Instagram

Twentieth day of #Ramadan! MashaAllah.. thank you for bearing with me to pass these fasting days even though your milk may not too much flowing and delicious as usual, #noahromas! 😂 Pernah merasakan ① dapat puasa hanya 5 hari saat bayi berusia 1,5-2 bulan ② nggak puasa kecuali sehari saat hamil muda ③ puasa sambil menyusui bayi 3-4 bulan, alhamdulillah justru yang ketiga ini yang paling mudah.. karena sesungguhnya lebih berat bayar hutang puasa di hari lain sendirian dibandingkan saat puasa rame-rame. Tahun lalu aja belum kebayar karena fase hamil-menyusui ini. Hehe. 🤪 Banyak pandangan terkait keringanan bumil dan busui dalam shaum Ramadhan, tapi saya selama ini memilih bayar fidyah dan puasa sekaligus seperti kebanyakan teman diaspora. . . . #ramadhanbusui #nursingwhilefasting #fastingwhilenursing #ramadanvibes

A post shared by Ega Dioni Putri (@egadioniputri) on

In my experience, holding the meals while nursing is easier than letting my tummy empty while suffering the nausea in the early pregnancy (even though when I finally ate the foods tasted not good). It was like a fighting between my desire and my need. 🙂

MASJID TOUR

This is my story I posted in the socmed about our hobby to do “masjid (mosque) tour” for iftar / taraweeh while Ramadan is coming and how it changes nothing even now with two kids. Written for FAHIMA’s contest. Continue reading

Ramadan Story: Night Prayer with Toddler


Judulnya sih bahasa bule, tapi isinya kali ini pakai Bahasa Indonesia kok. Haha…

Sabtu pertama di bulan Ramadan ini saya kebetulan baca tulisan anaknya bu Elly Risman, mbak Sarra Risman, tentang membawa anak ke masjid (baca di bawah), lalu di sore harinya kami berkesempatan merasakan langsung pengalaman itu dengan seorang balita yang baru genap berusia 13 bulan tiga hari sebelumnya dan sudah bisa jalan sejak 10 bulan (ini penting ditulis agar terbayang seberapa heboh gerakannya sekarang.. wkwk Squinting Face With Tongue). Berhubung kerepotannya sungguh tak disangka sebelumnya dan jadi kepikiran beberapa hal, saya putuskan perlu menuliskannya di sini demi memberi gambaran tentang “begini lho bawa anak (kecil) ke masjid itu” versi keluarga kecil #ea5512. Kami ajak Musa ke masjid dengan tidak bermaksud muluk-muluk semacam menanamkan kecintaan pada rumah Allah sejak dini sih, tapi karena memang tidak ada yang menjaganya di rumah. Haha… Ohya, pengalaman ini terjadi saat kami masih tinggal di Michigan, USA, dalam rangka suami menempuh S2.

Intermezzo dulu, ya…

Sejak memasuki bulan Ramadan, kami sudah niatkan untuk berbuka puasa di masjid setiap weekend dan memang rata-rata masjid hanya mengadakan community dinner atau fundraising dinner di hari-hari itu. Sedikit cerita, berbeda dengan community dinner yang umumnya gratis dan ditujukan untuk ramah-ramah aja, di fundraising dinner kita harus siap berdonasi sesuai kebutuhan penyelenggara atau sponsor. Bukan berarti kita bayar makanan bukanya, tapi dengan berbuka di situ kita dianjurkan menyumbang dengan nominal minimal yang sudah ditentukan, misalnya $25. Penyelenggara iftar adalah masjid, tapi tujuan donasi tidak selalu masjid, tapi bisa juga organisasi Muslim yang sedang butuh dana sehingga merekalah yang akan jadi sponsor hidangan iftar-nya. Fundraising hari itu seringya diadakan lagi setelah usai shalat berjamaah. Suasananya mirip kaya lelang. MC akan menyebut angka-angka seperti $100, $500, dst. untuk mencari donatur yang bersedia memenuhinya. Menarik, ya? Kami juga baru tahu penggalangan dana model begini di Amrik, tapi mereka niat banget mendorong orang untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dan bukan hal aneh jika kita melihat ada jemaah yang angkat tangan unuk nilai $1000 (lebih dari 10 juta rupiah). MasyaAllah!

Kembali ke cerita tarawih bersama bocil..

Continue reading