See Narita Outside The Airport


What attractions can make you come to Narita city other than the needs for its airport? Not many. Even the nearest shopping center (Aeon Mall – if you need to buy more specific product rather than gift shops inside the airport) is still a few kilometres away from the airport. Narita was just a spacious farming area in the northern Chiba which then transformed into “city” after Japan’s main airport is built there. However, although there is a few attractions in the area, according to my little research, some places are very interesting for us such as:

and out of Narita City yet still within vicinity

By the way, what’s all this talk about Narita? Is it a recommended place to go? Hehe.. yeah, we never aimed to explore out of the airport too until one day in the last month, Aisar had to spend one night in a hotel at Narita city because he had morning flight to Germany for another business trip. It would be rushed to arrived at the airport if he took train in the Day-D. Of course, I and Musa got along him with pleasure 😀

Once Aisar flied, mom and son adventure begun! Unfortunately, we could only make to Aero Museum and Narita Shinsoji temple, plus bonus walking down the historical Omotesando shopping street. You can watch a glimpse of both places in my photos and videos below.

[Warning: the rest of the articles will be written in Bahasa Indonesia with English caption for photos]

(FAILED) Naritaya Ramen

Malam itu (10/31), kami berencana makan malam di ramen halal Naritaya dalam perjalanan ke hotel di Narita. Dari rumah kami ke bandara Narita aslinya nggak perlu ganti kereta kalo pas beruntung ada kereta ekspres dengan tujuan akhir Narita Kuuko (Narita Airport) dan pasti melewati Asakusa. Berhubung hotelnya Aisar bukan di kawasan bandara, melainkan di sini, jadi tetap harus ganti kereta. Katanya, teman-teman Jepangnya juga butuh nginap dekat bandara ya di daerah situ yang kira-kira tinggal 10 menit naik kereta ke bandara Narita.

Night view of Asakusa Kannon Temple in Sensoji area. We didn’t manage to dine in Naritaya Halal Ramen (Asakusa) on the way to Narita Airport because they were out of ramen, but at least I got this beautiful shot.

Menurut riset melalui foto dan opini teman yang sudah makan, Naritaya sebenarnya bukan the best dalam hal halal ramen, cuma karena posisinya sangat strategis (dekat sekali dengan Nakamise Shopping Street, atraksi utamanya Asakusa) maka otomatis terkenal dan tetep aja perlu dicoba, kan, kan, kan. Mereka buka sampai jam 10 malam, tapi sayang saat kami datang pukul 21.00 ramennya sudah habis dan di warungnya yang hanya ada counter untuk makan sedang penuh. Semua pengunjung yang ada di situ adalah turis asal Indonesia dan mereka semua (terpaksa) makan nasi. Haha. Kami membatalkan niat makan di sana dan meluncur ke Kebab Factory. Alhamdulillah ada beberapa pilihan makanan halal di sekitar Kaminarimon.

Naritaya Halal Ramen Asakusa

Naritaya Halal Ramen in Asakusa is opened until 10 PM, when most stores around Nakamisa Shopping has been closed.

Uncomfortable Night in Comfy Hotel

Comfort Hotel Narita

We had no complain with the hotel, only Musa had bad sleeping during the night due to cold symptoms, which also made us couldn’t reach a deep sleep. Kind of irony to the hotel’s name..

Tak disangka malam itu Musa tumben-tumbenan kebangun dari tidurnya dan nangis berkali-kali tanpa kami tahu sebabnya karena dia nggak ngomong apa-apa dan sambil merem gitu, tapi sebagai ibu yang selalu bersamanya (ciee..) saya bisa melihat gelagatnya dan menduga badannya lagi meriang mau kena flu. Beberapa kali hari itu ada bersin walaupun nggak sampai keluar ingus. Alhasil semalaman kami ronda, nggak bisa benar-benar tidur nyenyak. Syukurlah di pagi hari Musa kembali ceria dan sarapan lumayan banyak, tapi di sisi lain resmi pula hidungnya mbeler. Sempat galau antara lanjut jalan-jalan atau pulang, tapi Musa udah minta “see airplane” mulu dari malamnya, efek terlanjut dijanjiin, padahal nggak bisa masuk sampai boarding gate. Wkwk.. Saya sebenarnya paling pengen ke ranch (bokujo 牧場). Udah cek di website-nya ada shuttle bus gratis bolak-balik dari stasiun terdekat Namegawa Station (滑河駅). Masih ada waktu, nih, sepertinya… pikir saya andai kami ke museum lihat pesawat dulu, baru lihat sapi. Setelah dilihat-lihat lagi jadwal kereta dan bus hari itu, eh ternyata kereta dari Narita Station ke Namegawa Station baru ada sore setelah langit gelap. What? Intinya emang harus pakai mobil sih ke tempat-tempat kaya gitu. Huhu.. selama pergi, di lokasi, hingga pulang dari museum pun belum tahu mau ke mana sampai akhirnya memutuskan untuk jalan ke Naritasan,

Museum of Aeronautical Science

ON THE WAY to THe MUSEUM

Kalo dilihat di peta, kelihatannya museum pesawat itu sebelahnya airport persis, tapi jangan salah, bo! Itu harus naik bus yang datangnya jarang, perjalanan sekian menit, dan ditambah jalan kaki nanjak sebentar. Saya sempat cari bus berdasarkan sugesti mbak peta Google, tapi pas udah menclok dari satu kandidat halte ke halte lain, rupanya salah semua. Akhirnya datang ke counter informasi, bilang mau ke museum, dan langsung disarankan naik bus yang mana sambil dikasih lembaran daftar bus dengan jadwal keberangkatan masing-masing.

bus to museum from narita

Bus schedule from information desk. Asking this sheet is the easiest way to find the bus stop from the airport. I searched for route on my Google Maps app, but didn’t get clue about the best plan.

Dari halte tempat kami turun sampai ke museumnya, jalannya muter, sepi, dan menanjak. Tidak meyakinkan sebagai destinasi wisata sama sekali. Haha. Ajaibnya di tengah semak belukar sekitar sana tiba-tiba ada patung Buddha segede gaban dan bangunan putih dibelakangnya.

Koku Shrine Narita Airport 航空神社

Koku Shrine Narita Airport (航空神社), a view on the way to museum

Inside The Museum

Begitu tiba di pintu gerbangnya, wah.. langsung excited buat eksplorasi, lalu di halaman depannya ada banyak model aircraft yang ketika mau pulang saya baru tahu bahwa hampir semuanya bisa dimasuki! Wow wow.. Overall, dengan biaya hanya ¥500,  walaupun kecil, atraksi di museum ini agak melebihi ekspektasi saya.

aeromuseum map

Things you can expect from this museum (map taken from their official website)

Entrance Gate - Museum of Aeronautical Science

A airplane model at the entrance of the museum

Observatory Tower - Museum of Aeronautical Science

Observatory tower, view from ourside museum

Ticket Gate - Museum of Aeronautical Science

The ticket gate has “Departure” and “Arrival” signs

View of Museum of Aeronautical Science Yard

Aircraft models in the museum yard viewed from observatory tower

Airlines around the world photos

Cozy library

View from 5F Museum of Aeronautical Science

View from 5F: ANA (something) Building and the Koku Shrine

Yang paling menggelikan, bukannya tertarik, Musa langsung bergidik ngeri dan nangis-nangis nggak mau maju jalan begitu melihat model pesawat ditampilkan di ruang pameran utama lantai 1. Hadeuhhh.. ndeso tenan. Wkwk. Di dalam ruangan tersebut, selain ada simulasi take off dan landing pesawat utuh, kita juga bisa melihat potongan badan Boeing 747, dari mulai kursi sampai ban, dalam ukuran aslinya, bahkan bisa mencoba alat kemudi pilotnya di bagian cockpit.

Outside The Museum

Baik di dalam maupun di luar museum, sebenarnya saya lebih banyak ambil video, jadi nggak semua ada fotonya nih, biasalah emak-emak Insta Story 😛

Di luar museum hampir semua model pesawat dan helikopter dari berbagai bisa dimasuki dan dimainkan alat kendalinya. Untuk pertama kalinya Musa coba naik helikopter beneran. Sebulan lalu, kami menyerah keluar dari antrian mengular demi naik helikopter (naik doang, nggak jalan.. wkwk) di sebuah festival internasional yang diadakan oleh pemerintah Ota-ku, Tokyo, kecamatan tempat kami tinggal. Saking hebohnya naik turun dari satu pesawat ke pesawat lain, hape udah nggak kepegang lagi buat fotoin semuanya. Bisa dilihat di video ya gambarannya.

Helicopter - Museum of Aeronautical Science

First time Musa “riding” the helicopter

Omotesando Street and naritasan park

Dari museum, saya tidak kembali ke bandara karena membatalkan rencana lihat sapi. Kebetulan ada bus di depan museum menuju Narita Station. Okelah, kami akhirnya naik itu meski belum tahu mau ke mana. Di jalan ternyata Musa tertidur pulas. Saya malas pergi jauh lagi karena dua jam kemudian udah gelap. Teringat pesan suami, “Di dekat Narita-eki itu ada taman terkenal yang daunnya udah merah, lho!”. Tampaknya yang dimaksud itu Naritasan Park. Banyak navigasi mengarah ke sana di berbagai penjuru kota. Rasa penasaran pun membawa ke sana.

Omotesando Street Narita

Unplanned destination, I was surprised to see these historical scenes along the way to Naritasan Park.

Omotesando Street Narita

I didn’t Google about this site when passing, just wonder is this a historical village or so, turned out it’s a historical shopping street indeed.

Jalan kaki dari stasiun ke Naritasan sebenarnya cukup jauh, tapi pemandangan sepanjang jalan cukup menghibur saya. Nggak nyangka di sana ada pasar dengan arsitektur bangunan-bangunan zaman baheula. Banyak makanan tradisional yang dijual, hasil kerajinan tangan, restoran yang penampakan luarnya mirip kaya yang saya lihat di Historical Village-nya Hokkaido, dan para pedagang yang memakai baju ala matsuri. Andaikan tak diburu waktu tiba di tujuan sebelum gelap, pengennya mampir di beberapa toko yang menarik buat saya misalnya:

  • warung dango yang wajan pembakarannya raksasa
  • toko serba ada hasil olahan kuri (kacang chestnut) yang bakar kacangnya di dalam wajan dalam berisi kerikil
  • pusat olahan ikan kecil-kecil yang ada sample untuk tiap jenis bumbu
  • kedai soft cream hitam rasa black sesame

dan lain-lain. Jangan lupa konfirmasi bahannya aja sih paling kalo mau icp-icip..

Singkat cerita, setelah jalan hampir setengah jam, kami tiba di kawasan Naritasan. Berhubung saya nggak suka ke tempat-tempat ibadah macem otera (shrine – ajaran Shinto) atau jinja (temple – Buddha) kaya gini, jadi saya nggak tertarik masuk dan ambil foto. Baru sadar juga di sana saya nggak banyak ambil foto karena udah tepar jalan jauh 😀

Naritasan Shinshoji Temple

Announcement board about 1080 years commemoration of Naritasan Shinshoji temple on April-May 2018. Very old worship place, built in Edo period. (Noted: I wrote the wrong name in the photo)

Di Naritasan ini ada banyak spot wisata yang tidak dibangun di satu ketinggian. Kalo dipikir-pikir, ada kali 3-4 tingkat gitu seluruhnya. Jinja utama yang besar ada di lantai yang sejajar dengan jalan, kemudian turun sedikit ada semacam pasar, lalu pagoda dan beberapa bangunan ibadah lain ada di daratan yang lebih tinggi, harus naik tangga atau lift (keren juga sampai dibuatkan), kemudian sudah sampai di atas pun, jika menuruni tangga ke ‘belahan dunia lain’ masih ada hamparan taman yang cukup luas dengan kolam di tengahnya. Wah, ruwet pokoknya menggambarkan posisi atas bawahnya.

Naritasan Map

Naritasan Map. There are some layers of lands in one area.

Pagoda at Naritasan Shinshoji Temple

Great Peace Pagoda at Naritasan Shinshoji Temple

Inside the pagoda at Naritasan

View Inside the pagoda at Naritasan. There is wheelchair friendly track.

Serem, kan, isinya pagoda? Hii.. ini pertama kalinya saya naik ke atas pagoda. Setelah lihat dalamnya, bingung mau ke mana lagi. Spot yang paling ramai dikunjungi sebenarnya Naritasan Park, dan saya pun tujuan utama ke sini adalah cari daun merah sesuai pesan suami, yang ternyata belum tampak di rimbunnya pepohonan. Cuma nemu satu pohon maple yang udah merah di sisi kiri pagoda dan beberapa pohon nishikigi yang merahnya masih segerrr. Andaikan udah kelihatan warna-warni, pastilah saya bela-belain gotong stoller Musa nurunin tangga dari pagoda ke tamannya (lihat peta di atas).

成田山の紅葉ニシキギ

Only a little red autumn leaves in the beginning of November in Naritasan. Momiji time started in the mid month up to early December (watch the video here)

成田山の紅葉

Maple trees started to change colors on Nov 1st

Going Home

Kami kembali menyusuri pasar bangunan jadul Omotesando ketika hari hampir gelap. Melihat banyaknya toko oleh-oleh, penasaran juga saya masuk ke salah satu yang mengklaim jual produk khasnya Chiba, namanya Fusano-eki. Di sini dijual berbagai olahan kacang mulai dari yang asin macem senbei sampai yang manis berbalut coklat kaya jajanan ala Amrik (saya nyobain beneran kemanisan, bo!). Dari sekian banyak produk, saya cuma pengen beli cemilan buat Musa aja selama di jalan, tapi yang kacang asli kok ya mahal banget. Mana di rumah lagi buanyak stok kacang-kacangan dari Jerman bawaan dinas suami. Akhirnya beli senbei kacang deh, yang kebetulan ada embel-embel no pork no alcohol.

Nah, di sinilah terjadi tragedi yang tidak saya ceritakan di Insta Story, tapi saya curhatkan ke ibu-ibu tetangga yang selama ini telah mendengar cerita sejenis dan saya rasa bisa memahami kami.

Tata letak toko yang padat dan pengunjung yang banyak membuat saya meninggalkan Musa di stroller sebentar di dekat pintu. Saya sudah pastikan barang-barang di sekitar tidak bisa diraihnya. Ketika saya baru beberapa detik ngurusin bayar belanjaan di kasir, saya ngecek Musa yang ternyata sudah bergeser dari posisi semula dan o ouuu… sedang makan roti dengan enaknya. ROTI DARI MANA TUH??? ternyata doi ngambil sekeranjang roti dagangan dan mengambil satu roti didalamnya, ditambah ngejatuhin beberapa bungkus roti ke lantai (diduga karena tangan kecilnya nggak kuat nahan berat keranjang). Astaghfirullah..

Setelah bilang gomen gomen ke staf toko dan ngecek rotinya aman dimakan atau nggak (ini respon spontan pertama yang muncul tiap ada hal begitu), langsung saya bayar rotinya. Untung cuma roti gandum keras yang isinya dried cranberries. Dari penampakan sih kayanya asli buah kering aja, nggak ada acara nyelup-nyelupin ke alcohol atau apa, seperti roti yang sering saya buat sehari-hari. Di luar toko barulah saya ceramahin si bocah, kirim pesan ke suami tentang kelakuan anaknya (yang dijawab “Haha, itu namanya lapar” -__-), cerita ke ibu-ibu Ota, dan lanjut jalan ke stasiun.

Bukan Musa namanya kalau nggak bikin ulah selama ngebolang. Belum hilang kesal akan kejadian di toko roti, dalam perjalanan pulang dari Narita ke Kamata (2 jam naik kereta), ketika kami transit di Ueno dan Mama memutuskan untuk makan di Ayam-ya Okachimachi, doi dengan suksesnya numpahin ramen dan seisinya ke lantai dan mangkok cakepnya Ayam-ya pun gagal terselamatkan, pecah berkeping-keping 😥 Beruntung momen tersebut sempat diabadikan oleh Gina, tetangga yang juga baru membaca cerita Musa ngutil roti dari grup LINE kami. Kebetulan dia mau dinner di situ, dan langsung dapat contoh nyata bagaimana hebohnya pergi bareng Musa. Wakakak… kyo mo otsukaresama, Musa.

Naritasan Trip Mama and Musa

Taking picture in Great Peace Pagoda before leaving Naritasan. We took the regular train to Kamata station and had transfer in Ueno for Keihin-Tohoku, which led us to have dinner in Ayam-ya halal ramen in Okachimachi. Feeling so tired when reaching home after long trip and mental tests because Musa made trouble in a gift shop and the restaurant, but so relieved we passed the first day of Papa’s absence with wonderful trip around Narita City.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s