Aisar and Electric Car


Until today, Aisar has joined a local machine company (they just haven’t found a good web developer :P) for exactly two weeks. His responsible comprises upgrading some unfinished-features through software engineering, for example how to display error message perfectly on digital dashboard, as we commonly look at the electronics nowadays. I, since the first visit of him to its head office for delivering proposal (Jan 9), felt suited with no doubt that the company would open great insight and experience for him. Besides, Aisar has high interest to the field “automatic vehicle”, which is actually further development of electric car. Aisar learned it recent years between tight schedule when he was still an engineer in a multinational corporation of Japan, before ended up as ‘unemployed start-up owner’ in two months for the sake of his next plan: pursuing master degree, also on the track of his interest. So, the current job should ‘click’ enough with his passion. That’s why I supported him to the fullest for moving a week earlier from Bandung to Depok that he could start his new ‘career’ soon. While waiting for some good news from his campus-wanna-be, Aisar decided to take a half year contract.

That’s it! And, what drove me to write this post is to capture his first time of driving electric car from the factory. Unfortunately, he was late to tell me about this moment…>_<

Image

Image

The first electric car operated by Aisar

Of course we both hope that this Aisar’s choice will leave significant influence for him to become one of the future vehicle innovators in Indonesia, even world, someday 🙂

EA5512 Update on Janary 23, 2014 at 02:07PM


Contoh “berantemnya” couple yg sama-sama IT-minded buat ngasih pelajaran ke pasangannya:

Si suami yg merasa idenya ga diterima langsung naik kasur, tiduran sambil mainan HP, sementara si istri ambil laptop dan mulai ngetik email. Di saat siap mau sending email yg nggak sampai lima menit selesai diketiknya itu, si istri menyadari koneksi internetnya terputus dan namanya menjadi “NAMASUAMI-ONLY” dengan password yg (tentu saja) juga berubah. “Hahaha..NAMASUAMI-ONLY jareee,” kata si istri mengejek si laki yg sudah mengunci pintu kamar 😀 “Biar aja tiga hari nggak bisa internetan!”, kata si suami dr dalam kamar.

Kebetulan kamar di rumah baru ini ada dua dan sama-sama bisa dikunci, nggak kaya rumah sebelumnya di negeri seberang yg semua ruangan nggak ada kuncinya, termasuk kamar mandi! Maka, si istri pun dapat akal mengamankan semua barang penting di kamar kedua biar kalo si suami perlu terpaksa nanya ke dia. Fokusnya saat itu hanya satu: mencari kesempatan untuk mengembalikan SSID (nama wifi) dan security key-nya wifi rumah seperti sedia kala yg mengandung NAMAMEREKABERDUA.

(adegan ketok-ketok pintu dan merayu —> berhasil bikin kamar terbuka —> skip, skip)

Si istri menunggu si suami terlelap dgn keyakinan penuh bahwa itu tak akan lama. Tujuannya agar dia bisa mengakuisisi si modem di kamar tempat suami berada untuk reset setting. Benar saja, tak sampai satu jam dia sudah ngorok.. xixixi. Dgn referensi setting modem yg sudah diintipnya dr internet, dia berubah pikiran buat ngintip HP si suami ketimbang ngambil modem. Dia tahu pasti ke mana harus mencari informasi seputar wifi setting. Sebentar kemudian, dia berhasil ‘membalas’ monopoli si suami dgn sedikit tambahan pengamanan pada login admin (biar si laki nggak bisa seenaknya ngubah setting lagi).

Pagi harinya.. (udah baikan dooong :))
“Aaa kok jadi gini..,” kata si suami. Mungkin kaget nama wifi yg semalam diubahnya jadi NAMASUAMI-ONLY udah ganti jadi ‘NAMAMEREKABERDUA Rukun Selalu’ dgn password tanpa format biasanya (yg bisa ditebak keduanya). Password kali ini hanya si istri yg tahu. “Kok bisa tahu caranya? Diapain emang?” si suami menyelidik. Ya elaaah.. dipikirnya si istri ini gaptek apa? “Ada deeeh.. wkwk,” jawab si istri.

Si suami pun berangkat ke kantor sambil senyum-senyum kecut.. ah, malam ini tampaknya ia harus berjuang menembus pertahanan si istri demi mengamankan akses internet untuk HP dan laptop pribadinya. Tentu saja cara istrinya semalam (yg berhasil ngintip HP-nya) nggak bisa dicontek krn si istri pun sudah mengubah kode kuncinya 😛 Biarlah rayuan gombal itu ada, yg penting mereka ‘Rukun Selalu’, seperti nama wifi-nya (halah).

Posted from Ega Dioni Putri’s Facebook

FB Photo on January 14, 2014 at 11:35AM


A messy room for the umpteen times! #ea5512 is getting ready for the 6th movement in these two months, as returned to Indonesia from Japan. Hope the next city will be our last destination to settle a new life before migrating abroad again. Aamiin.. so, what’s the next city to go? a place where Aisar seems to be meeting his great passion 🙂
Posted by Ega Dioni Putri via Facebook

FB Status on December 07, 2013 at 10:43AM


Tahun ini, tiga dari lima anak ayah-mamah mertua (kel. Romas) ternyata punya milestone yang sama: PINDAH RUMAH! dan setelah dipikir-pikir, dari Januari sampe akhir Desember nanti, dengan 2x perjalanan domestik Jepang, 3x perjalanan internasional ke luar Jepang, 1x perjalanan pindahan dari Jepang ke Indonesia, dan 3x perjalanan domestik Indonesia, jadilah tahun 2013 ini memegang rekor tertinggi saya dalam hal “Packing Activity”! Oh, My Lord.. kalo minjem istilah teh Armelia sih ‘packing has become my middle name’ 😛

#ea5512 lagi bantu kakak ipar pindahan rumah via Facebook

FB Status on December 04, 2013 at 02:26PM


Akhirnya sampai di satu titik di mana merasa Jepang seperti “kampung halaman” sebagaimana Jogja dan Bandung yg pernah jadi tempat perantauan.. pengen banget “mudik” ke sana lagi, kangen kulinernya jg. Pada doain saya ya biar ada jalan, soalnya kangmas belum dibukain pintu sama kampus impiannya, masih mau nyoba ngetok lagi buat periode berikutnya 😛 #sekedarkabardancurcol via Facebook