#ea5512 and The Bean
Posted by Aisar Labibi Romas via Facebook
Category: Posts Born Here
All articles originally written in this website
Story of Musa Romas and His Meal
It’s been a week Musa started eating solids. Here is the video of his mealtime taken at the Day 8. Curious, messy, and so eager to chew the foods 🙂
Sudah seminggu kemarin Musa resmi menikmati MPASI. Seperti apa gambaran mealtime-nya? Kurang lebih sama kaya yang ada di video ini.
Rebutan sendok, super cemong, teriak-teriak, gebrak-gebrak meja, kaki diangkat satu kaya di warung.. Aah, forget about table manner lah pokoknya :)) Sebenarnya tiap jenis makanan baru yang dikenalkan selalu ada foto dan videonya, tapi mana sempat, bo, buat bikin kompilasinya.. ini aja bikinnya sambil tiduran nyusuin 😀
Nah, berhubung tahap MPASI ini merupakan dilema banyak orang tua baru, saya mau berbagi sedikit pandangan tentang metode yang beredar di luar sana dan pilihan pribadi kami. Continue reading
Welcome, Solid Foods!
Before I tell you about Musa’s solid foods experience, I would like to remind you an important thing: please don’t judge the choice made by the other parents in raising their children even though it goes against your beliefs. As some “peace campaign” has been sounded recently, we all know that when it comes to the parenthood, there’s no the most correct way for parenting and every parent, either blood or foster parent, knows the best for his / her own children. Here I’d like to share our opinion as new parents, which is, in many ways, book oriented 😛
I want to say here that, in case of feeding, we’ve been choosing ‘experimental’ path 😀 We welcomed pacifier and bottle for Musa since he was born. Some institutions, including WIC program I’m joining, count both as things not to offer for exclusive breastfeeding (you may say that I’m not exclusively breastfeeding.. it’s fine :P). However, pacifier worked extremely well to soothe our baby. Super helpful for the first two months (after 2 mo, Musa refused to suck on a pacifier and chose his fingers instead :D). Newborn baby has strong instinct in sucking.. all the time! even when his tummy is full, so pacifier is the answer 🙂
Meanwhile, the bottle is necessary for feeding my expressed breast milk and we’ve used it since Musa was three day olds because he got jaundice and I had to boost his intake of milk both from breast milk and formula. Formula milk was given to him only for one and half day at that time, but it meant a lot to solve his poop problem. Alhamdulillah, he’s a very easy baby on this matter. He’d be able to drink milk from the bottle since then.. masha Allah! And we continue giving him bottle-feeding each time we go out. I usually pump my breast milk in the night before or once we arrived home from outing, when the breasts are full because baby isn’t drinking a lot. I’m a happy Mama who doesn’t always need to be bothered for public breastfeeding. Hahaha.. 😉
The Day when He Knocked The Door to The World
Banyak yang penasaran nanyain proses kelahiran Musa karena memang tidak saya sebutkan saat ‘launching’-nya apakah lewat persalinan spontan atau c-section 😛 Sebagian bertanya karena sedang hamil dan ingin tahu bagaimana melahirkan di sini. Amrik ini rada lain daripada yang lain terkait persalinan. Rumah sakitnya punya standar unik dalam memperlakukan ibu dan bayi yang diterapkan di seluruh state. Kontrasnya, persalinan alternatif di luar rumah sakit juga makin marak di sini, apalagi setelah satu per satu dilegalkan alias dilindungi oleh undang-undang. Hal tersebut terlihat jika kita menyimak bab semacam choosing your provider yang hampir selalu ada di buku-buku seputar kehamilan. Saya, yang kebetulan tinggalnya dekat rumah sakit bertaraf internasional milik kampusnya suami, alhamdulillah jadi tidak perlu susah-susah memilih akan melahirkan di mana dan bagaimana.
Asyiknya hamil di sini karena resources panduan ibu hamil yang ngetop baik online maupun offline asalnya dari Amrik, saya bisa mencocokkan antara teori dan praktiknya, yang ternyata seringnya persis! Misalnya, kalo menurut teori di minggu antara 24 dan 28 saya harusnya menjalani glucose test, eh.. bener emang di usia kehamilan 26 minggu saya dijadwalkan tes glukosa. Atau contoh lainnya, kalo menurut teori hamil usia 35 tahun ke atas beresiko tinggi dan harus tes DNA, maka begitulah yang saya dengar dari senior-senior berkriteria tersebut. Alhasil saya enjoy banget melahap berbagai bacaan dari internet, aplikasi HP, atau buku-buku, sedangkan di saat yang sama teman-teman sesama bumil di Indonesia beberapa kali nanya ke saya tentang tes ini-itu yang dia nggak dapat dari tempat kontrolnya. They even have no idea what those are.. ya iyalah saya juga banyak yang baru tahu setelah di sini 😀 Meski kesannya ribet karena banyak tes yang harus dijalani selama kehamilan, setelah sharing dengan teman-teman di Jepang / Indonesia, sebenarnya sama aja ribetnya hanya beda fokus. Hehehe..
That Amazing Feeling
“Do you believe that he is here?”, tanya Mary, seorang nurse yang bertugas mengunjungi saya dua hari setelah keluar dari RS, ketika Musa berusia empat hari. Di sini, ibu dengan persalinan normal tanpa komplikasi atau masalah lain termasuk pada bayinya, hanya tinggal di RS selama dua hari, lalu diikuti dengan program “Nurse Visit” di rumah masing-masing minimal dua hari kemudian. Kami (saya dan suami) hanya 36 jam berada di RS sejak check-in ruang triage (tempat ngecek apakah pasien udah layak dirawat inap di RS) hingga check-out ruang postpartum (kamar buat ibu dan bayi serta keluarganya pasca melahirkan). Selama masa tinggal di RS yang singkat itu, kami lumayan sibuk menjalani serangkaian pemeriksaan atau tindakan medis baik bagi ibu maupun bayi. Kalo ada waktu, insyaaAllah nanti saya ceritain di lain tulisan deh.. bocoran dikit: Musa udah disunat, lho! 😀
“Well.. I don’t believe it. I still can’t believe that he’s in my hand as that soon. My labor and delivery were fast,” itu akhirnya jawaban saya buat pertanyaan Mary tadi, yang sepertinya lebih ke perasaan “masih nggak percaya aja dulu bayi ini tumbuh di perut kita” menurut istilahnya jeng Elin. Nggak pernah ngira semenakjubkan itu rasanya ketemu seseorang yang selama sembilan bulan menyatu dengan diri kita, makan, minum, senang, dan sedihnya pun tergantung kita, tapi cuma bisa dibayangin wajahnya (oya, saya nggak dapat 3D ultrasound..hiks hiks). Entah tujuan mereka nanya itu di kuesioner apa, tapi kata Anom, mungkin ada hubungannya sama kondisi psikologis ibu. Demi mastiin kalo saya masih waras mungkin, padahal kalo nggak salah dua malam sebelum kunjungannya itu saya baru ngalamin malam yang super berat dan sepertinya nge-baby blue karena Musa hampir tiap jam nangis jerat-jerit nggak bisa tidur, diperparah dengan skill menyusu dan menyusui yang masih buruk. Memang satu hal yang saya nggak expect bakal se-wow ini sebelum lahiran adalah aktivitas ngasih makan si bayi. I won’t lie.. breastfeeding is exhausted and needs much more patience than pregnancy. Untungnya, selain malam itu, alhamdulillah sampai hari ini kantuknya nggak separah begadang zaman kuliah saat skripsi, ujian, atau ngejar deadline tugas dulu sih.. terima kasih kampus gajah, especially prodiku yang aduhai, telah menempaku sekeras baja.. hahaha 😀 Continue reading
Wedding Outfit
Yesterday I stopped by at a post in blogger group I join. The post starter, a bride-to-be girl, is asking for other members’ opinion about choosing wedding makeup artist and by chance she comes from the same city with me :grin:. While sharing my experience, I recommended her to look at my wedding-related posts in this website, but I just realized that I haven’t written in detail about our wedding outfit and face make-over than what it looked at a glimpse of the ceremonies. So, here we go.. hope it can help you, Mbak!



